(Lanjutan dari Ikan Layur di Kawah Ijen -1 )
Dalam banyak sisi tentu kita adalah semata “groupies” dari konser besar ekonomi dunia ini. Semenjak kolonialisme, perang dunia (I dan II) dan berujung pada diberlakukannya Bretton Woods system Amerika telah menjadi “lead vocal” sekaligus pimpinan band raksasa ini. Sementara, negara-negara seperti Kanada, Eropa Barat, Australia dan Jepang adalah para “backing vocal” nya (dalam istilah Immanuel Wallernstein “lead vocal” = “the core”, “backing vocal” = “allies” dan “groupies” = “periphery”). Sementara, Kuba, Myanmar, Lybia, Korea Utara, dan belakangan Venezuela, Iran, dan Bolivia adalah sekelompok orang yang kebetulan tak berselera dengan aliran musik yang dimainkan.
Aliran musik yang dimainkan band ini adalah liberalisme pasar, yang percaya bahwa pasar bebas akan memberikan alokasi yang tepat pada sumber daya yang dimiliki oleh sebuah sistem. Tugas negara adalah semata-mata menjamin agar pasar dapat bergerak secara bebas dan natural tanpa hambatan. Ibarat sungai, tugas negara hanya membersihkan serta menyingkirkan tumpukan sampah, pohon tumbang, dan bebatuan di dalam sungai itu yang akan menghambat mengalirnya air ekonomi secara bebas. Hal-hal serupa korupsi, tata pemerintahan yang buruk, kekacauan politik, diktatoriansme, Marxisme, dsb adalah bagian dari sampah, dahan kering dan bebatuan yang harus di singkirkan. Itulah tugas negara! Tak boleh lebih dan tak boleh kurang.
Agar semua orang dapat menikmati musik ini, si penyanyi membagi-bagikan hadiah pada setiap pembeli kasetnya. Hadiahnya bukan “kondom” seperti yang dilakukan Julia Perez, melainkan aliran modal (“capital inflow”). Judul dari album mereka ini adalah “Washington Consensus.” Dan memang terbukti, para penggemar dan terlebih para “groupies” band ini mendapatkan insentif secara langsung di tahun 1990-an. Penggemarnya pun dari berbagai kalangan mulai dari tukang jagal semacam Suharto hingga putri anggun nan baik hati semacam Corazon Aquino.
Distributor dari album “Washington Consensus” ini adalah lembaga-lembaga internasional, termasuk IMF dan the World Bank. Dan mereka selalu memasang menteri-menteri ekonomi di tiap negara-negara “groupies” yang bisa dengan baik menyanyikan lagu liberalisme di negaranya masing-masing, tentunya secara “lips-sing”. Malaysia pada akhir dekade 1990an diwakili oleh Anwar Ibrahim, yang kemudian harus disingkirkan oleh Mahathir Muhammad sebab ia menjadi penghalang kebijakan Mahathir yang “anti-IMF” pada saat itu.
Sebagai “lips-singer” yang baik, sarat utamanya adalah: jangan bernyanyi! Cukup gerak-gerakan saja bibir mengikuti langgam yang sudah pakem. Tak peduli semerdu apapun suaranya, sepintar apapun dalam berimprovisasi: “just dont sing, okay?!” Dalam hal ini, karena tugas seorang mentri adalah memikirkan untuk membuat kebijakan, dari analogi “lips-singer” tadi, maka tugas menteri perekonomian di negara-negara “groupies” hanya satu saja: Jangan Berpikir!
Tentu saja, pekerjaan untuk “tidak berpikir” itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu sekolah sampai ke Wharton School of Economics University of Pennsylvania dan/atau University of Illinois Urbana-Campaign untuk bisa melakukannya dengan baik.
Seperti halnya para “groupies” band yang rela memberikan segala yang dimilikinya demi sang idola, negara-negara “groupies” termasuk Indonesia pun demikian. Juga, para penyanyi latar, harus mendukung agar sang “lead vocal” tetap eksis di pentas. Sebab bila sang “lead vocal” tampil buruk dan tidak lagi populer, maka mereka semua pun akan terkena getahnya. Dalam hal ini, “keamanan” adalah insentif utama dari sistem global ekonomi-politik tersebut. Sehingga, sesungguhnya ada mekanisme kesalingtergantungan antara ketiga level itu. Kesalingtrgantungan yang diikat oleh kebutuhan akan “rasa aman”. Sistem ini mengingatkanku saat menonton program-progam di “National Geographic Channel” tentang bagaimana binatang-binatang mengelola komunitas mereka. Sang kepala singa memberika proteksi pada singa betina dan singa jantan yang jadi cecunguknya.
Lantas, kalau Indonesia adalah groupies, mungkinkah kita menjadi penyanyi utama. Mungkin saja, tapi sayangnya dunia ini bukanlah pementasan “Indonesian Idol” yang bisa mengubah pengamen menjadi bintang dalam sekejap. Perlu ada penelaahan sejarah yang hati-hati dan sungguh-sungguh memetik pelajaran dari proses transisi dan sebab perpindahan kekuasaan hegemonik global mulai dari Mesopotamia, Roma, Persia, London sampai New York City. Tentunya tiap jaman memiliki konteks yang berbeda-beda. Sehingga pelajaran dari satu jaman tak bisa serta-merta diterapkan dijaman lainnya. Penggunaan US$ sebagai satu-satunya alat tukar perdaganan internasional, sistem finansial global dan penguasaan senjata nuklir, adalah hal-hal yang tak pernah terjadi di penggalan periodisasi kekuasaan dunia jaman dulu. Inilah yang membuat kekuasaan hegemon di jaman ini sepertinya menjadi lebih sulit bergeser.
Tapi setidaknya kita dapat menjadi “groupies” yang lebih bermartabat. Sesungguhnya ada dua jenis “groupies.” Ada yang murahan hingga sulit dibedakan apakah sesungguhnya ia “groupies” ataukah pelacur. Tetapi ada pula groupies yang terhormat, bermartabat dan berbakat. Yang siapa tahu suatu saat bisa diangkat jadi penyanyi latar. Tentu pilihan yang kedualah yang terasa rasional untuk jangka pendek dan menengah. Tapi, tentu saja, hal-hal stategis semacam hanya bisa mulai dilakukan setelah Indonesia tak lagi disibukkan proses rebutan mainan antara SBY, Mega, Prabowo, Wiranto, dll.
Tetapi meskipun demikian, katakanlah kita telah berhasil menjadi “groupies” bermartabat semacam Malaysia, Taiwan atau Afsel, hal ini bukan berarti keidakadilan menjadi hilang. Proses eksploitasi yang dilakukan hegemon tetap terus terjadi. Hegemon terus menjual “rasa takut” untuk terus menghisap madu ketergantungan para penggemarnya itu. Bila dulu ia menjual ketakutan akan diktatorianisme Uni Soviet, sekarang mereka menjual ketakutan akan Terorisme. Nanti entah apalagi. Hegemon akan terus menciptakan musuh-musuh bersama untuk melestarikan rasa takut itu.
Sistem dunia yang primitif yang tak jauh beda dengan cara-cara binatang mempertahankan komunitasnya ini tetap berlangsung hingga di abad XXI sekarang ini. Dibangun di atas menara-menara gading perguruan tinggi diseantero bumi. Mereka yang terus saja memproduksi kelas-kelas terdidik merasa bahwa akal, rasionalitas, individualitas, gelar doktor dan keprofesoran adalah puncak pencapaian filosofis tertinggi dalam kehidupan. Kelas yang merasa pantas mendapatkan rejeki dan status lebih layak ketimbang para pemancing ikan layur, penyabit gabah dan pengangkut belerang.
Di luar hujan telah reda, tapi tak ada setetespun air bisa direguk untuk melepaskan dahaga akan keadilan.
East Austin, April 2009
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.


