Lingkungan Hidup dan Perdamaian

Apa yang terlintas di benak Anda bila mendengar kata perdamaian? Keadaan aman? Damai sejahtera? Tidak ada perang? Afrika? Ya, itulah jawaban sebagian besar orang.

Bicara tentang perdamaian tentu tak lepas dari perang. Perdamaian secara sempit dapat diartikan sebagai ketiadaan perang. Sebagian besar orang juga beranggapan bahwa perdamaian akan tercipta bila perang dapat dihentikan. Jika demikian, maka yang harus dilakukan untuk mewujudkan perdamaian adalah menghentikan perang. Tetapi, bagaimana caranya? Apakah kita harus berdemo di depan gedung pemerintah untuk menuntut dihentikannya perang yang terjadi di belahan dunia lain yang berjarak ribuan mil jauhnya dari negara kita tercinta? Apakah kita harus terbang ke Gaza untuk menghentikan konflik yang terjadi? Ekstremnya, apakah kita harus ikut berperang untuk menghentikan perang? Bila terus berpikir seperti ini, mungkin mustahil bagi kita yang kecil mampu ikut serta mewujudkan perdamaian di dunia yang luas ini.

Sebelum Louis Pasteur berhasil membuat vaksin untuk mencegah penyakit rabies, banyak orang yang meninggal karena penyakit ini. Lalu, bagaimana beliau bisa menemukan sesuatu yang dapat mencegah rabies? Tentu saja dengan mengetahui penyebabnya. Virus penyebab rabies dilemahkan dan disuntikkan ke dalam tubuh manusia sehingga tubuh membentuk sistem kekebalan dengan sendirinya. Hal yang sama juga berlaku dalam hal peperangan. Bila ingin menghentikan peperangan, kita harus mengetahui penyebabnya.

Apakah yang menjadi pemacu peperangan? Mungkin jawabannya terlalu banyak sampai tidak bisa diuraikan satu per satu. Ada satu hal penting mengenai penyebab peperangan yang sering tidak terpikirkan: kelestarian lingkungan hidup. Sebagian besar orang bahkan tidak mengetahui adanya kaitan antara kelestarian lingkungan hidup dengan peperangan dan perdamaian.

Wangari Maathai, seorang wanita Afrika pencetus Gerakan Sabuk Hijau, menerima penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 2004 atas usaha dan kerja kerasnya dalam melestarikan hutan Afrika. “Melindungi lingkungan dunia berkaitan langsung dengan terwujudnya perdamaian,” katanya saat menerima penghargaan bergengsi tersebut (National Georaphic, September 2005). Penghargaan yang diterima Maathai membuktikan pada dunia eksistensi dimensi baru perdamaian dunia: kelestarian lingkungan hidup. Hal ini pun menjadi bukti bahwa perubahan besar dimulai dari usaha yang kecil. Bila Maathai tidak menanam sebuah pohon dan mengajak seorang wanita Afrika untuk menanam pohon yang lain, bukan tidak mungkin bila sekarang Afrika tidak memiliki sehektar pun hutan.

Lalu, bagaimana hubungan antara kelestarian dan perdamaian? Manusia membutuhkan berbagai sumber daya untuk menunjang hidupnya. Air, pangan, pakaian, listrik, semua diperoleh dari alam. Setiap hari, persediaan sumber daya alam semakin menipis karena kebutuhan manusia semakin bertambah dan jumlah manusia pun semakin besar. Bila tidak diimbangi dengan usaha konservasi, tentu saja sumber daya yang terbatas ini cepat atau lambat akan habis.

Pendistribusian sumber daya alam di bumi ini tidak merata. Ada bagian bumi yang memiliki tanah yang sangat subur, sementara bagian bumi lainnya memiliki cadangan air tanah yang sangat minim. Kebutuhan air merupakan contoh yang tepat untuk memulai sebuah skenario berantai yang menggambarkan hubungan kelestarian lingkungan hidup dengan peperangan dan perdamaian. Beberapa wilayah di Afrika tidak memiliki persediaan air yang cukup untuk menopang kehidupan penduduknya sehingga mereka terpaksa mencari daerah lain yang lebih berpotensial. Hal ini dapat menyebabkan konflik antara si pencari air dan pemilik air. Tak jarang hal semacam ini berujung pada peperangan. Jumlah air di bumi memang tidak berkurang atau bertambah, tetapi jumlah air yang dapat dipakai manusia untuk kebutuhan hidupnya dapat semakin berkurang. Sumber air bersih dapat kehilangan vitalitasnya bila kualitas lingkungan sekitarnya mengalami degradasi. Satu hektar hutan tentu saja menyimpan cadangan air jauh lebih besar daripada lahan gundul dengan luas yang sama.

Mari kita beralih ke hutan. Dari paragraf sebelumnya, dapat dilihat bahwa keberadaan hutan berpengaruh terhadap tersedianya sumber air bersih. Memang bukan hal ini saja yang mempengaruhi, tetapi contoh yang akan dipaparkan lebih jauh ini setidaknya dapat menggambarkan yang mungkin terjadi bila lingkungan tidak dilestarikan.

Dari tahun ke tahun, semakin banyak hutan yang ditebangi dengan berbagai alasan, misalnya perencanaan kebun kelapa sawit, perluasan lahan pertanian, pembangunan pemukiman penduduk, dan sebagainya yang kebanyakan dipelopori oleh pemerintah yang tidak bertanggung jawab. Bukanlah tidak mungkin bila suatu saat anak cucu kita hanya bisa menikmati kekayaan hutan dalam bentuk hutan buatan dalam sebuah kebun binatang. Bila keadaan seperti ini terus berlangsung, bagaimana kita dapat memperoleh air bersih di waktu mendatang? Bila beberapa tempat mengalami hal ini terlebih dahulu, bagaimana kita mencegah perebutan sumber air yang mungkin akan terjadi? Bila terus terjadi konflik, bagaimana perdamaian dunia dapat terwujud? Itulah penggambaran sederhana hubungan antara kelestarian lingkungan hidup dengan perdamaian.

Hal yang dikemukakan di atas hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak kasus perebutan sumber daya alam yang pada akhirnya mengakibatkan konflik. Apa yang bisa kita lakukan? Tentu saja melestarikan lingkungan dengan menggunakan sumber daya alam yang tersedia dengan seefektif dan seefisien mungkin. Anda dapat memulai dengan menghemat pemakaian kertas dan tisu yang berarti mengurangi angka konsumsi kertas dan tisu. Dengan demikian, produsen akan mempertimbangkan untuk tidak memproduksi kertas dan tisu dalam jumlah yang terlalu banyak. Hal ini berarti semakin sedikit pohon yang ditebang untuk pembuatan kertas dan tisu. Anda juga dapat menghemat pemakaian energi listrik: memakai lampu seperlunya, tidak meninggalkan komputer tetap menyala saat tidur, dan menggunakan barang-barang elektronik hemat listrik. Sumber energi listrik utama di Indonesia adalah batu bara. Bila penggunaan listrik tidak terkontrol, perusahaan listrik akan kehabisan batu bara dan bukan tidak mungkin akan terjadi pertikaian dengan pihak lain untuk memperebutkan sumber batu bara. Bisa saja kita membangun sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir. Kemudian, protes dari banyak negara akan berdatangan. Konflik lain terjadi.

Banyak hal sederhana lain yang dapat dilakukan untuk melestarikan lingkungan hidup dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia. Bila hanya saya yang melakukannya, tentu percuma. Tetapi, bila saya mengajak Anda untuk turut serta mengerjakan sebuah gerakan global dan Anda mengajak teman Anda untuk melakukan hal yang sama, demikian seterusnya, saya yakin apa yang manusia cita-citakan sejak awal –perdamaian- akan terwujud. Wangari Maathai tidak memulai Gerakan Sabuk Hijau dengan berpidato di sebuah konvensi internasional, tetapi dengan mengajak wanita-wanita Afrika di sekitarnya untuk menanam pohon. Jadi, marilah melestarikan lingkungan hidup dan wujudkan perdamaian dunia.

__________________________________________________________________________________

Penulis (Marsya Christyanti, SMA Negeri 8 Jakarta) adalah pemenang Kompetisi Menulis 2009 yang diadakan oleh Waraskita dengan tema Hari Perdamaian 1 Januari 2010.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.