Bapak dan Dunia Pendidikan Indonesia Sekarang

Ini bukan mau sombong atau bagaimana, atau juga berandai-andai tidak jelas, sekedar refleksi siapa tahu berguna untuk pembaca.

Begini, bapak saya almarhum itu pada masa mudanya terkenal pandai di kampungnya. Mari kita pikirkan ini, di ijasah SMP-nya, nilai Matematika 10, IPA juga 10, lainnya 8 dan 9. Tidak ada yang menyamai rekor dia sampai saat ini di SMP-nya dulu itu. Ijasah SD-nya pun setali tiga uang, bertebaran angka 10, 9, dan 8. Itu membuat kami anak-anaknya jadi berpikir, “Wah, bagaimana menyamai Bapak?” Dan ternyata tidak ada yang bisa menyamai prestasi Bapak.

Tapi kisahnya agak tragis kalau menurut saya. Waktu SD, dia sudah tidak begitu disukai orang kampungnya karena dia suka membaca,  maka suka kritik sana-sini. Sebuah keberanian yang oleh anak SD sekarang harus diperoleh dengan sekolah di sekolah unggulan. Kata teman-teman seangkatannya, “Bapak kemaki (sok tahu dan sombong)” karena dia sering berpandangan lain. Tragisnya lagi, dia tidak bisa melanjutkan SMP dan harus menganggur selama satu tahun. Ceritanya, keluarga memang tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan dia. Maka untuk sementara kandaslah cita-citanya waktu itu untuk sekolah. Kemudian ada seorang kaya di kampung menawari dia uang untuk membeli ijasahnya. Bapak dan keluarga setuju dengan tawaran itu. Setelah ada negosiasi yang ceritanya masih kabur sampai hari ini, akhirnya ijasahnya berpindah tangan dan orang yang membeli kemudian mengganti nama disesuaikan dengan ijazah itu. Pada saat itu ijazah SD sudah bisa digunakan untuk mendaftar pegawai negeri. Menurut sahibul hikayat, orang ini kemudian ke Sumatera dan menjadi pejabat di sana. Bagaimana orang itu bisa menjadi pejabat dan seperti apa caranya, saya tidak tahu. Yang saya tahu, orang-orang bercerita kalau orang yang membeli ijasah itu jadi bisa sekolah dan bekerja di pemerintahan karena hasil keringat Bapak.

Setelah menganggur setahun, ada seorang guru yang menjumpai Bapak sedang mencari kayu. Bapak adalah seorang buruh tani. Dia ingat kalau Bapak dulu nilainya tinggi-tinggi, jadi dia heran mengapa bapak tidak melanjutkan sekolah. Maka berceritalah Bapak kalau dia menjual ijasah dan tidak punya biaya untuk sekolah lagi. Waktu itu menurut dia, guru-guru juga tidak begitu menggubris karena status sosialnya yang dianggap. “Kalau meneruskan juga nantinya tidak bisa menutupi biayanya”, guman para guru karena sekolah waktu itu harus ke kota kabupaten dan harus kos-kosan.

Maka atas pertolongan guru tadi, saya sampai sekarang belum sempat kenal guru ini,  Bapak dianjurkan menempuh SD kelas 6 lagi, dan dapat ijasah lagi. Nilainya tetap sama 8, 9, 10. Dan dia tetap juara, maka masuklah dia ke SMP di kecamatan yang kebetulan baru berdiri dengan tidak dipungut biaya. Dia praktis menjalani sekolahnya di SMP gratisan. Hal yang membuat iri banyak orang karena menurut mereka tidak pas orang kere dapat beasiswa. Sampai akhirnya dia lulus dengan nilai 8, 9, 10 lagi dan ujung-ujungnya, pusing lagi mau melanjutkan sekolah atau tidak. Atas desakan beberapa orang akhirnya dia mendaftar di Jogja, dia diterima di Sekolah Tiga B (Kalau tidak salah ini sekarang SMA 3 Jogja) dan STM Negeri. Sekolah-sekolah yang cukup favorit di Jogja. Akhirnya dia masuk STM jurusan bangunan. Pertimbangannya, dia bisa sambil kerja untuk membiayai sekolahnya. Nah pada titik inilah dia ditawari untuk kursus menjadi mantri ukur, dengan iming-iming langsung mendapatkan pekerjaan pegawai negeri. Maka tanpa pikir panjang, Bapak menerima tawaran itu. Bayangan dia, wah ini kesempatan langka, kursus dan langsung jadi pegawai negeri. Jadi dia banting setir ikut kursus dan jadi mantri ukur di Departemen Agraria (Departemen Pertanahan sekarang). Dan ini juga yang menjadi akhir dari kariernya di dunia pendidikan. Pada akhirnya sampai akhir hayatnya pendidikannya cuman SMP dan gajinya juga berstandar SMP.

Saya pernah bertanya kenapa dia tidak memikirkan soal beasiswa? Jawabannya adalah, “Tidak ada yang mengarahkan Le, pikiranku pas sekolah pokoke kerja supaya bisa bantu orangtua”. Tapi dari beberapa teman saya juga mendengar cerita kalau dia pernah digagalkan mendapat beasiswa waktu di STM dulu karena persoalan status sosial saja. Yang pasti nilai raportnya terakhir di STM, tidak ada angka 7-nya. Sampai akhir hayatnya, Bapak percaya pendidikan dapat mengangkat derajat seseorang makanya dia tetap ngotot dan mengajak untuk kreatif mencari dana bagi pendidikan—walau dia juga bingung ketika ditanya, “Carane piye,  Pak?” (“Caranya bagaimana, Pak?”)

Hal menarik lainnya dari Bapak adalah kesukaannya membaca. Menurut dia, anak-anak jaman dulu memang diwajibkan membaca karya sastra dunia dan biografi tokoh dunia. Jadi dia bisa tahu soal Jules Verne, Old Satherhand dan Winetou, Suku Mohikan, Sukarno, Multatuli, Hemingway, Plato, Alexander Agung, Thomas Alfa Edison, Einstein, dan banyak tokoh dunia lainnya. Dia sangat suka dengan Einstein dan Napoleon Bonaparte—mungkin karena sama-sama pendek, tapi sebal dengan Pangeran Diponegoro—entah kenapa. Sampai dia bekerja kegemarannya membaca masih berlanjut. Dia pernah punya koleksi bukunya Pramudya Ananta Toer, tapi kemudian dibakar karena menurut dia waktu itu, “membahayakan posisinya di pekerjaan”. Saya ingat pas membakarnya itu waktu saya kelas enam SD dan mulai membuka-buka koleksi bukunya. Kami memang sering diajak untuk membaca atau kreatif mencari bacaan. Jadi walau tidak bisa beli buku kami tetap bisa membaca. Kadang dia membelikan majalah untuk kami anak-anaknya.

Karena membaca itulah wawasannya menjadi luas. Dari dia saya kenal yang namanya The Beatles, Led Zeppelin, dan Rolling Stone, dan sedikit-sedikit belajar bahasa Inggris. Konsumsi yang menurut saya mustinya dipunyai orang-orang yang cukup berada, tapi kami bisa tahu, karena ternyata dia sering juga mendengarkan siaran-siaran radio luar negeri dan memberitahukan kepada kami, bagaimana mencari gelombangnya. 

Tapi di sisi lain, dia juga korban dari pemerintahan dan rezim yang sangat represif. Sampai sekarang saya masih mewarisi ketakutan-ketaukan beliau. Saya juga merasakan bagaimana anak-anak kurang mampu sekarang masih merasakan represifnya pendidikan dan mereka yang mempunyai kuasa. Berkali-kali saya tahu bapak diancam oleh kantornya karena dia cukup kritis dengan beberapa kebijakan. Mungkin bapak dianggap terlalu kiri. Karena pernah seorang temannya ke rumah khusus memperingatkan dia agar lebih hati-hati. Yang jelas sejak kecil dia sudah ditekan oleh mereka-mereka yang punya uang atau kekuasaan. Jadi segala kepandaiannya tidak maksimal, tapi mungkin juga karena kepribadiannya yang gigih. Dari sini saya belajar bahwa kekerasan dalam dunia pendidikan sudah sangat lama berakar di dalam masyarakat kita. 

Saya juga belajar bagaimana ternyata pendidikan jaman dulu memberikan ruang yang cukup besar untuk membangun suasana gemar membaca dan membangun suasana belajar yang mencerahkan. Saya selalu terkejut kalau bertemu dengan angkatan bapak saya yang pengetahuannya sangat luas dan memiliki etos belajar yang kuat. Sekarang saya sering bertemu dengan anak-anak SMP dan mendapati kalau mereka tidak membaca sama sekali. Bahkan membaca koran pun tidak. Pola pikir generasi sekarang juga amat berbeda. Bahkan ketika saya mengajar anak-anak yang katanya mahasiswa, saya mendapati wawasan mereka kalah jauh dengan bapak saya. 

Jadi, mengapa ya dunia pendidikan kita tidak bisa menampung energi kreatif para jenius? Atau karena memang sangat represif itu ya? Saya bilang represif karena anak-anak merasakan ketakutan tersendiri di sekolah-sekolah. Mau berbicara dengan guru, takut. Mau maju bertanya, takut. Mau menjadi ketua OSIS, takut. Dan masih banyak ketakutan lain. Sekarang sepertinya juga makin tidak jelas. Gaji guru naik, anggaran pendidikan naik, tapi nampaknya pola pikirnya tetap sama bahwa pendidikan itu ya memang mungkin represif itu. Atau memang jangan-jangan pendidikan kita tidak dibangun untuk anak pandai ya? 

Tapi saya bangga dengan bapak saya, dia berjuang untuk banyak hal, terutama untuk pengetahuannya sendiri dan keluarganya.


Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.