Diskusi: Trend Mahasiswa Indonesia Memilih Pendidikan di Luar Negeri

Diskusi berikut adalah diskusi dari 6 teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat (AS). Diskusi ini merupakan hasil tanggapan suatu fakta bahwa semakin sedikit mahasiswa Indonesia yang studi ke AS, tetapi semakin banyak yang studi ke China. Diskusi ini bertujuan untuk mengajak pembaca untuk ikut berdiskusi mengenai mana yang lebih menarik pendidikan di China atau AS, bagaimana situasi pendidikan ilmu pengetahuan, riset dan teknologi di indonesia, bagaimana ide masuknya Universitas luar negeri ke Indonesia, bagaimana pentingnya pola pikir global , serta bagaimana membangun Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju. Diskusi ini dilakukan di medium Facebook.

(Nama Mahasiswa ditulis dengan Initial)

HA: Mahasiswa Indonesia di AS turun dari 15,000 sepuluh tahun yang lalu ke 7,500 sekarang. Sebagian mengatakan bahwa kebanyakkan lari ke China. Apa pendapat kalian?

EJK: Sebagian karena biaya pendidikan di AS semakin naik, sebagian lagi karena pendidikan di negara lain juga semakin bagus dengan biaya yang lebih murah dibandingkan AS. Apalagi ke China juga bisa sekalian belajar Bahasa Mandarin yang akan menjadi bahasa Global seperti Bahasa Inggris.

RS: Oh yah sekarang tinggal 7,500? Baguslah, mungkin orang tua kita sudah menyadari bahwa peluang sekolah bagus tidak hanya datang dari AS, tetapi negara lain yang mempunyai peluang kerja dan koneksi yang sama atau mungkin lebih baik. Jaman dulu mungkin bisa dibilang sekolah terkenal didominasi oleh AS, tetapi sekarang tidak kalah untuk Australia, China, Malaysia dan Singapore, untuk mendapatkan pengetahuan yang sama dan cara berpikir global. Contoh saja Shanghai Engineering School punya program 4 tahun dalam Bahasa Inggris, pertukaran pelajar ke AS, diakui kombinasi US-China universitas, bagi kita orang Indonesia, ini seperti dua peluang untuk belajar lebih tentang pola pandang global.

BW: Menurut aku, sangat bisa dipahami, ekonomi AS tidak stabil seperti dulu dan US Dollar bergerak menjadi lebih murah, sehingga sebenarnya lebih dapat dijangkau biayanya. Tetapi, anehnya, cara pandang orang tua kita melihatnya China menjadi lebih kuat beberapa tahun kebelakang dan lebih dominan di dunia global, yang biasanya dikuasai oleh orang Barat. Jadi beberapa orang tua mungkin berpikir China akan mengambil alih sehingga lebih baik mengirimkan anaknya ke China. Saya sendiri tidak melihat ini akan terjadi paling tidak sampai 8-10 tahun ke depan.

RS: Secara mental (atau intelektual) mungkin masih satu generasi lagi untuk melebihi pola pikir AS. Tetapi sudah diprediksi dengan keadaan seperti sekarang, bahwa di tahun 2016 China akan memimpin dengan Gross Domestic Product (GDP) paling tinggi di dunia. Orang tua mungkin terpengaruh hanya melihat perkembangan pesat ekonomi di China, yang masih tidak stabil. Tapi, siapa tahu.

BW: @RS, kalau anda berbicara GDP dan Cadangan Devisa, China sudah pasti lebih baik dari AS, tetapi stabilitas negara, demokrasi, pemerintahan, pendidikan, dll, AS masih lebih jauh di depan daripada China. China akan membutuhkan beberapa tahun untuk membuat sistem mereka lebih stabil.

ESL: Bisa dimengerti kalau semakin sedikit orang yang mau belajar ke AS. Ekonomi AS yang sedang kacau balau. Untuk apa datang ke AS yang sedang resesi kalau bisa ke China yang sedang booming. Mau tidak mau, aku percaya bahwa China akan menjadi salah satu kekuatan dunia. Keputusan untuk belajar di China daripada di AS bukanlah suatu pilihan yang salah. Apalagi kalau kita faktorkan bahwa banyak barang rumah tangga yang kita punya sekarang ditulis dengan “Made in China”.

AS memang masih nomor 1 dalam hal riset. Ini masih susah dikalahkan oleh orang China. Sebagian besar riset dilakukan dalam Bahasa Inggris, jadi orang China pun harus mempublikasikan karya mereka dalam Bahasa Inggris. Tetapi, sekarang banyak orang China datang ke AS untuk belajar PhD dan kemudian menjadi Professor. Sebagian dari mereka akan pulang ke negaranya dan akan mengembangkan dan memajukan ilmu teknik/pengetahuan di China. Apalagi dengan satu artikel dari Forbes[1] yang saya baca mengatakan bahwa, “70% sarjana PhD Teknik di AS, diberikan untuk warga International”. Sebagian besar dari 70% itu warga China dan India, yang akan berkembang di bidang pengetahuan dan pendidikan.

FW: Jumlah mahasiswa Indonesia di AS turun dari 14,000 menjadi 7,500, sedangkan ada 8,500 mahasiswa Indonesai di China. AS masih memimpin dalam hal ilmu pengetahuan dan teknik, dan China lebih kepada jurusan Bisnis. Apakah artinya lebih banyak mahasiswa Indonesia tertarik belajar Bisnis daripada Teknik/Ilmu Pengetahuan?

BW: @FW, mungkin karena praktek bisnis di China lebih dapat diterapkan di Indonesia?

ESL: Kebanyakkan orang Indonesia yang bisa belajar keluar negeri tentu berasal dari keluarga yang relatif mampu. Biasanya, ini berarti keluarga yang sudah berbisnis dan sukses. Tidak banyak orang Indonesia yang sukses melalui riset dan teknologi. Karena ini, tentu saja banyak orang Indonesia yang diarahkan ke Bisnis dan bukan Ilmu Pengetahuan.

RS: Ya mungkin saja, kita dibesarkan untuk belajar Teknik supaya mempunyai pola pikir kritis yang dapat mendukung bisnis kita. Sangat sedikit orang yang memilih menjadi Ilmuwan Murni, yang mengingatkan saya akan pertanyaan: Dengan keadaan ekonomi Indonesia sekarang, apakah lebih baik jika kita menaikkan ilmu Bisnis untuk warga Indonesia sedangkan import Teknisi/Ilmuwan International untuk bekerja dengan kita, daripada kita mempunyai sendiri Ahli Teknik atau ilmuwan matematika dari Indonesia, dimana hak paten dan jurnal publikasi masih sangat tidak dihargai di Indonesia).

FW: Untuk bersaing dengan negara lain seperti Singapura, Jepang dan Amerika, kita tidak bisa hanya mengandalkan pola pikir Bisnis. Kita harus bisa menggunakan dan memaksimalkan sumber daya yang kita punya dan menciptakan alat yang bisa dipakai di dunia. Kalau kita import ilmuwan dari luar, itu rasanya mustahil. Orang Indonesia saja tidak betah tinggal di Indonesia, kenapa orang luar mau?

RS: @FW, tapi dengan keadaan Indonesia, jujur saja, siapa yang mau jadi Ahli Teknik, kalau pemerintah tidak mendukung adanya apresiasi untuk ilmu pengetahuan, teknologi baru dan riset. Orang Indonesia boleh gembar-gembor beli dan import teknologi dari luar, tetapi siapa yang mau bergantung dengan produk dalam negeri kalau harga mahal, kualitas biasa, teknologi masih jauh ketinggalan. Balik lagi ke pemerintah, apakah mereka mau kasih dukungan dana untuk mendukung ilmu Teknik/Ilmu Pengetahuan. Kalau mereka mau buat sistem yang baik, gaji tinggi untuk Ahli Teknik/Ilmu Pengetahuan, tidak ada pembajakan untuk hak patent, mungkin pelan-pelan orang Indonesia yang pintar dari luar negeri akan pulang ke Indonesia.

FW: @RS, Saya setuju bahwa sistem di Indonesia tidak sempurna, tetapi apakah kita harus menunggu sampai sistem itu sempurna atau justru kita yang membuat sistem itu sempurna?

EJK: Jadi tiba-tiba kepikiran pertanyaan, ketika kita ingin memilih studi di China atau AS, apakah lebih kepada faktor dalam negeri, seperti karir apa yang kita inginkan untuk sukses di Indonesia. Seperti, ingin menjadi ilmuwan murni susah tidak ada apreasiasi, lebih baik punya bisnis sendiri. Atau kepada faktor luar negeri, seperti ekonomi China yang lagi maju pesat (masa depan Bisnis modern) atau AS yang lagi turun (tetapi masih mempunyai sistem pendidikan terbaik). Atau sedikit dari kedua faktor?

HA: Kembali kepada pendidikan, apakah kalian setuju bila institusi seperti Harvard dan Yale untuk membuka cabang di Indonesia? Kalau iya, kenapa dan klo tidak, kenapa?

RS: @HA, kenapa tidak? Jika menguntungkan untuk Indonesia dan universitas setuju untuk outsourced sekolah di Indonesia, tidak akan ada yang menolak. Pertanyaannya adalah apakah Yale / Harvard akan menerima manfaat timbal balik apa tidak.

BW: @HA, Yale dan Harvard akan mengajarkan kita pengetahuan, tetapi mengalami langsung di luar negeri akan merubah pola pikir kita menjadi pola pikir international

HA: @BW, lebih mudah bicara daripada aksi. Di Indonesia, DPR saja masih menentang datangnya Universitas Luar Negeri untuk masuk ke Indonesia. Bagaimana caranya supaya generasi kita di Indonesia ini bisa merubah mindset mereka?

BW: Rasanya kita perlu ketemuan nih, rasanya topik yang sangat menarik dibicarakan antara kita dan orang lain yang tertarik, sehingga kita bisa saling membagikan pikiran kita untuk kemajuan masa depan bangsa Indonesia.

(…..akhir diskusi…..)

Seperti ajakan dari teman BW, mari kita lanjutkan lagi diskusi ini dengan memberikan comment-comment dari teman pembaca. Mari kita saling membagikan pendapat demi kemajuan masa depan bangsa Indonesia.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.

Referensi:

[1] http://blogs.forbes.com/ciocentral/2011/01/20/danger-america-is-losing-its-edge-in-innovation/