Saya berkenalan dengan seorang pegawai negeri yang baru saja melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana utama (S2). Dia sangat senang dengan hal itu. Saya pikir perasaaan senangnya itu timbul karena dia akan mendapatkan pengetahuan baru dan bisa belajar lagi. Dan saya berfikir dengan pengetahuannya itu dia akan menularkannya kepada orang lain terus akhirnya menjadikan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih pandai dan mempunyai moral yang lebih baik. Di samping itu dengan kemampuannya yang baru saya berfikir dia akan lebih profesional dan bisa mengatasi berbagai permasalahan yang timbul di lingkungan kerjanya dengan lebih baik. Tetapi ternyata pikiran saya itu lain dengan pikirannya. Teman saya tadi berfikir praktis saja. “Buat genap-genap sajalah Mas”. Rupanya dia kuliah ini hanya menjalankan kewajiban saja supaya dia bisa naik pangkat dan bisa bertambah gajinya dan kemudian jenjang kariernya terus naik. Jadi akhirnya menurut dia, jalani saja apa yang ada di dalam perkuliahan secepat mungkin dan tidak usah dalam-dalam ketika mengerjakan tugas. Bahkan kalau perlu tugasnya dikerjakan oleh orang lain.
Cerita seperti teman saya tadi banyak terjadi di sekitar kita. Bahwa sekolah adalah kewajiban saja merupakan hal yang lumrah dan biasa. Jadi sekolah hanyalah pengisi waktu luang sebelum nanti nganggur atau bekerja. Begitu istilah banyak orang. Tentu saja tidak semua orang seperti itu, tapi keadaan itu memang ada dan terjadi di masyarakat kita.
Rupanya dalam masyarakat kita ada kenyataan bahwa makna pendidikan bergeser jauh dari harapan yang seharusnya ditimbulkan karena pendidikan itu. “Harapan kalau kita mengenyam pendidikan sederhananya adalah supaya kita bisa menjadi lebih pandai dan juga supaya generasi kita menjadi lebih baik sehingga kehidupan kita juga bisa menjadi lebih bermakna. Menjadikan manusia lebih berkualitas”, begitu kata teman yang pegawai negeri tadi. Kenyataannya adalah seperti komentar teman saya ini, maksudnya mereka tahu dan hapal di luar kepala manfaat dan pentingnya pendidikan tapi menjalankannya dengan makna yang sungguh sangat berbeda.
Teman saya tadi tahu arti pendidikan untuk apa, tapi dia menjalankannya dengan arti ekonomis yaitu untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan jabatan yang lebih baik. Memang pendidikan membuat seseorang bisa mempunyai akses yang lebih baik kepada kemampuan ekonomi tetapi jika motifnya hanya untuk jabatan dan akses ekonomi tadi jelas akan mengabaikan hal-hal lain. Dari sini sudah jelas kan mengapa ada begitu banyak orang membeli gelar dan juga ada begitu banyak mahasiswa membeli skripsi? Karena memang motifnya bukan untuk belajar.
Dalam sistem kerja di beberapa instansi baik swasta maupun negeri, memang orang yang berpendidikan lebih tinggi akan mendapatkan jabatan serta akses ekonomi yang lebih baik. Bahkan kadang tanpa ada tes alias secara langsung dapat menduduki jabatan tertentu. Siapa sih yang tidak iri dengan keadaan itu?
Di sisi lain, keadaan itu justru juga memperlihatkan adanya kesenjangan ekonomi di dalam masyarakat kita. Kita bisa melihat, orang-orang yang bisa mencapai keadaan berpendidikan tinggi biasanya adalah orang-orang yang akses ekonominya baik dan orang-orang yang bisa membeli ijasah adalah orang yang kaya. Bukankah hal ini dapat diartikan jabatan sangat berhubungan erat dengan kepemilikan modal dan artinya ada sebagian orang yang tidak bisa mencapai hal itu? Faktanya hanya sedikit orang yang bisa membeli gelar tadi.
Maka jalan pintas yang diambil sebagian orang, mereka kemudian berlomba-lomba mengatasi kesenjangan itu dengan membeli gelar, bagaimana pun caranya. Supaya derajatnya naik dan akses ekonominya jadi naik. Bukankah hal ini bukti bahwa orang mengabaikan proses untuk mencapai taraf tertentu dan hal ini juga dipicu karena adanya kesenjangan yang sangat sulit dihapus? Enak kan kalau ada jalan pintas? Cuma akhirnya semua hanya berputar-putar saja dan yang miskin tetap miskin karena yang sudah punya pasti akan mempertahankan keadaanya sekarang. Tentu saja cara mempertahankan kedudukan itu dilakukan dengan cara-cara yang cerdas. Lha mereka sudah berpendidikan kan?
Sudahkah dengan begitu kita menjadi sadar pendidikan? Jelas dong, kita sudah sadar. Kalau tidak sadar tentunya kita tidak sekolah. Bukankah keinginan untuk memperoleh gelar untuk sebuah jabatan menandakan bahwa kita benar-benar sadar bahwa pendidikan sangat bermanfaat bagi kehidupan? Masalahnya memang menjadi jelas, apakah pendidikan hanya berarti sebatas materi? Dan persoalan lain menjadi jelas juga, bahwa bagi sebagian besar kita sekolah hanyalah untuk menunggu nganggur. Kalau tidak memiliki akses, materi alias modal, ya kemungkinan besarnya jelas nganggur kan? Jadi sekolah hanya untuk menunggu nganggur tadi, karena setelah lulus diperlukan uang untuk mencari kerja dan kedudukan dalam pekerjaan.
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.



Mungkin juga dikarenakan bagaimana kebanyakan orang sekarang sudah mempunyai sedikitnya 1 gelar, sedangkan dulu tahun 80-an, mempunyai gelar itu suatu kebanggaan, jadi lebih bisa dihargai. Saat lulus dengan gelar telah menjadi keharusan setiap anak muda, maknanya pun makin mengurang
benar juga..pendidikan memang untuk hidup yang lebih baik. cuman masalahnya banyak orang justru tidak menyadari bahwa untuk mencapai hidup yang lebih baik itu perlu proses yang benar dan tuntas. jadinya sekolah hanya untuk status atau ya beli ijasah asli atau palsu.
Sepertinya itu juga terjadi kepada mahasiswa Indonesia yang sekolah di luar negeri. Jika mulai nganggur, lanjut S2 sajalah. Memang sedikit ironis, tapi sepertinya basis semuanya adalah agak mendapatkan hidup yang lebih baik. Dengan pendidikan lebih baik, bisa diasumsikan bahwa pekerjaanpun kemungkinan lebih baik. Asalkan tidak memakai ijazah palsu, kurasa ini masih bisa dibilang cukup wajar.