Filipina sebenarnya salah satu tetangga kita yang cuma berbatas lautan. Tapi entah mengapa negara kepulauan yang satu ini tidak mendapat perhatian sebanyak negeri Jiran Malaysia dan Singapura. Padahal, banyak hal yang kita bisa pelajari dari negeri ini.
Nomor satu adalah perihal demokrasi. Contohnya: dalam People Power Revolution tahun 1986, Filipina berhasil menggusur presiden Marcos yang korup dengan damai[1]. Dalam revolusi ini, ribuan penduduk Manila protes damai di jalan untuk menggugah presiden Marcos untuk turun jabatan. Tidak ada korban jiwa, tidak ada kerusuhan, tidak ada mahasiswa yang meninggal.
Lain katanya dengan Indonesia. Suharto baru mengundurkan diri setelah peristiwa Mei 1998. Ini terjadi setelah mahasiswa-mahasiswa kita tewas tragis ketika protes di gedung MPR. Jangan lupa kerusuhan luar biasa yang melumpuhkan ibukota Jakarta dan mencoreng nama Indonesia sebagai bangsa rasis. Hingga sekarang, walaupun pemerintah telah meresmikan Tahun Baru Cina sebagai hari libur nasional, Indonesia masih dikenal sebagai negara yang kejam terhadap penduduk minoritasnya. Tak heran kalau tahun demi tahun pemerintah harus membersihkan nama Indonesia dengan cara menghapus hukum-hukum seperti SBKRI yang memojokkan bangsa minoritas, khususnya kaum Tionghoa Indonesia.
Kedua, dalam perihal ekonomi Filipina hampir setaraf dengan Indonesia. Malaysia dan Singapura mempunyai GDP per kapita yang jauh melebihi Indonesia[2], sementara Indonesia mempunyai GDP yang sedikit lebih dari Filipina. Namun dalam beberapa hal seperti bidang IT, Filipina mempunyai banyak perusahaan multinasional yang bersedia membuka cabang di negaranya dan tidak di Indonesia, salah satunya adalah Friendster. Dari hal ini kita bisa mempelajari apa kelebihan bangsa ini dibandingkan dengan Indonesia dalam segi sumber daya manusia, barulah kita kejar Malaysia dan Singapura.
Ketiga adalah perihal terorisme. Filipina juga memiliki masalah yang sama dengan Indonesia: gerakan ekstrimis di pulau Mindanaonya. Dalam hal ini, badan intelijen dari dua negara bisa harus saling bahu-membahu dalam mengumpulkan informasi dan taktik-taktik guna memberantas gerakan teroris ini.
Tiga contoh diatas belum cukup untuk melukiskan bahwa Indonesia bisa belajar banyak dari negeri tetangga kita yang satu ini dan juga sebaliknya. Karena kedekatannya dengan negara Amerika Serikat waktu perang dunia ke 2, Filipina mempunyai satu keunikan tersendiri. Masyarakat Filipina banyak yang bermigrasi ke Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, network bangsa Filipina sangat kuat. Masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya kita yang berlokasi di Amerika Serikat, bisa belajar berkomunitas dari bangsa Filipina.
Saya masih ingat salah satu teman bule saya di Arizona. Ketika saya menceritakan tentang kenalan Filipina saya, dia berujar, “Oh the Phillipines they’re very much like Indonesians! They are very fun & easygoing people.” Memang, setelah saya telusuri, kita banyak kemiripannya dengan bangsa Filipina. Mungkin sudah saatnya kita lebih mempererat persaudaraan kita dengan bangsa ini. Apalagi setelah banyak masalah dengan Malaysia belakangan ini, Indonesia harus pintar-pintar berdiplomasi supaya kita tidak dipojokkan terus oleh bangsa yang lebih kaya dan kuat.
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.


