Internet dan Suara Politik Rakyat

Beberapa minggu belakangan ini banyak media dan tokoh menyebut-nyebut dukungan 1 juta lebih pengguna Facebook kepada Chandra dan Hamzah sebagai petunjuk dari suara politik rakyat Indonesia1. Saya kurang setuju dengan pendapat ini. Sebelum buru-buru menyetarakan suara politik di jagad maya dengan suara politik di dunia nyata, sebaiknya kita renungkan dan periksa bagaimanakah syarat-syarat suatu suara bisa menjadi suara politik.

Menurut seorang pemikir Prancis bernama Luc Boltanski dalam buku Distant Suffering: Morality, Media and Politics (2004), ada lima syarat untuk menguji apakah suatu suara bisa menjadi suara politik atau tidak. Kelima syarat itu adalah (1) niat; (2) perwujudan dalam tubuh; (3) pengorbanan tindakan-tindakan lain; (4) kehadiran orang lain; dan (5) dibuktikan dengan ikrar.

Mari kita pakai satu persatu kriteria ini untuk menguji seberapa penting suara rakyat di internet. Pertama, niat tidak selalu mendasari “aksi bersuara” di internet. Orang bisa saja hanya iseng, salah klik, atau main-main sehingga tercantum dalam suatu kelompok atau gerakan. Bandingkan dengan aksi keprihatinan di Bundaran HI, atau rapat dengar pendapat aktivis antikorupsi dengan Komisi III DPR. Kemungkinan iseng atau main-main bisa kita singkirkan dari daftar niat mereka.

Kedua, suara rakyat di internet hanya menuntut gerak tubuh yang sangat minimal. Mengeklik tetikus dan memencet beberapa tombol tidaklah sebanding dengan, sebagai misal kembali, para demonstran yang harus naik kendaraan untuk menuju kantor bundaran HI, berteriak-teriak, berpanas-panas, dan kembali lagi ke tempat masing-masing. Dan bukan hanya itu, sebelumnya pasti mereka telah saling berembug. Sesudah itu, para aktivis pastilah harus sibuk bertemu lagi untuk merancang aksi selanjutnya. Kebalikan dengan para aktivis, keterlibatan dalam gerakan bersuara di internet sangatlah gampang, cukup satu atau beberapa klik.

Ketiga, kegiatan fisik yang dilakukan untuk menyampaikan suara politik di internet tidak perlu mengorbankan tindakan-tindakan lain. Sejauh pengamatan penulis yang terbatas, kegiatan mengunjungi situs pertemanan adalah kegiatan sambilan yang bisa dilakukan sesuka hati dan terputus-putus. Sementara itu, untuk mengungkapkan suara politik dengan aksi bersama di dunia nyata, dituntut pengorbanan kegiatan-kegiatan lain yang bisa jadi bernilai besar secara ekonomis atau sosial. Dengan demikian, bersuara di dunia nyata selain tidak gampang, juga tidak murah.

Keempat, kehadiran orang lain di dunia maya tidaklah bisa dipastikan. Jika di dunia nyata tubuh tidak bisa dibagi untuk menghadiri dua acara secara bersamaan, di dunia maya orang bisa menghadiri banyak kegiatan secara bersamaan. Orang bisa memasang status hadir, meskipun dia pergi. Akibatnya, di dunia maya kehadiran orang lain tidak bisa berperan sebagai saksi sebagaimana di dunia nyata. Di dunia maya kehadiran orang lain hanya sinyal elektronis yang belum tentu menunjukkan kehadiran diri. Dengan kata lain, aksi bersama di dunia maya tidaklah tercipta dari hasil hubungan antarsubyek politik, melainkan tercipta dari hasil perintah elektronis yang entah disebabkan oleh apa atau siapa.

Selain itu, dunia maya juga mengidap perkara identitas. Orang bisa menciptakan identitas palsu ataupun identitas jamak. Sebagai contoh, dalam kelompok gerakan sejuta Facebooker di muka, terdapat nama-nama seperti, Reza Kucing Gaul, Krido Jangkrik, Kopral Rasa Apel Segar, Rahmat Lionel Messi, dan masih banyak lagi. Sulit untuk menganggap bahwa itulah identitas sejati dan satu-satunya dari si pemilik suara. Sebaliknya, suara politik hanyalah bernilai jika ia disampaikan oleh seseorang yang benar-benar ada dan tidak menggunakan identitas lain. Contoh untuk ini adalah pemilu, referendum, petisi, dan lain-lain.

Terakhir, akibat kurang niat, gampang dilakukan, tak perlu berkorban, dan tanpa kehadiran orang lain, tidak terlahir ikrar pemilik suara dengan disaksikan para pelaku tindakan yang lain. Dunia maya lebih memungkinkan orang untuk berganti-ganti pendirian. Selain karena orang bisa menghilang dari dunia maya setiap saat, juga karena di dunia maya belum terlalu ketat aturan untuk mengganjar sikap mencla-mencle dengan sanksi sosial.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa suara di dunia maya tidak lolos uji untuk bisa dikatakan sebagai suara politik yang bernilai. Namun begitu, bukan berarti suara di dunia maya hanyalah kebisingan tanpa makna. Dunia maya menyimpan peluang-peluang besar sebagai tempat pembenihan kesadaran, bincang-bincang politik, dan pengorganisasian pendapat. Kecepatan pengiriman informasi, kemudahan berinteraksi dalam skala yang besar, kemudahan pengelolaan data, dan kesetaraan para pengguna adalah sebagian dari peluang yang melampaui media lama.

Jika cetusan suara di dunia maya kemudian disusul dengan upaya pengorganisasian yang tekun dan terencana di dunia nyata, suara rakyat di dunia maya bisa berdampak besar seperti dalam pemilihan presiden Obama di Amerika Serikat. Di sana suara rakyat di dunia maya disusul upaya pengorganisasian jutaan relawan dalam kegiatan-kegiatan nyata yang menghasilkan sumbangan terbesar dalam sejarah kampanye Amerika Serikat dan kemenangan presiden pilihan mereka. Nah, mari kita tunggu bagaimana suara cicak maya melawan buaya nyata.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.