Wahhh betapa beruntungnya aku, bisa mengetik artikel ini sambil menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh Jacket Potato ketika mereka sedang latihan. Oh, aku belum kasih tahu ya kalau aku dapat kesempatan interview jazz band yang mengaku dirinya bernama Jacket Potato ini. Ya sudah, yuk aku ajak kalian mulai dari awal pertemuan kami.
JCO pukul 10:00WIB pagi, aku masuk ke dalam coffee shop ini bersama dengan Yoanne, salah satu personil Jacket Potato, untuk bertemu dengan sang manajer band tersebut, Jerry Rahardja. Dengan secangkir hot cappuccino di depanku, akupun siap melemparkan pertanyaan-pertanyaanku kepada mereka.

Dari kiri ke kanan: Mikha, Handy, Cindy, Yoanne, Gihon, Jerry
Bagaimana sich cerita mulai terbentuknya Jazz band ini dan kenapa namanya Jacket Potato?
Band ini mulai terbentuk dari 3 tahun yang lalu dan sebenarnya saat itu namanya bukanlah Jacket Potato melainkan Corner Stone. Tetapi , ternyata sudah ada band lain yang mempunyai nama yang sama, alhasil kami harus mencari nama lain. Asal mulanya berasal dari nama salah satu makanan di dalam menu Sandwich Bakar, “Jacket potato” sandwich yg isinya kulit kentang. Sandwich Bakar sering menjadi tempat berkumpulnya para member band ini dan ketika kami melihat nama ini dalam menu, kami suka dengan nama itu karena terdengar menarik dan membuat orang penasaran.
Band ini mulai terbentuk dari 3 tahun yang lalu dan sebenarnya saat itu namanya bukanlah Jacket Potato melainkan Corner Stone. Tetapi , ternyata sudah ada band lain yang mempunyai nama yang sama, alhasil kami harus mencari nama lain. Asal mulanya berasal dari nama salah satu makanan di dalam menu Sandwich Bakar, “Jacket potato” sandwich yg isinya kulit kentang. Sandwich Bakar sering menjadi tempat berkumpulnya para member band ini dan ketika kami melihat nama ini dalam menu, kami suka dengan nama itu karena terdengar menarik dan membuat orang penasaran.
Filosofi dari nama Jacket Potato adalah “walau jelek kulit luarnya, tetapi sebenarnya bagian dalamnya kentang itu sangatlah bersih ditambah mengandung banyak vitamin dan gizi buat tubuh kita.” Ujar Jerry sang manajer. Jadi maksudnya walau mungkin manusia banyak ketidaksempurnaannya, setiap orang itu mempunyai potensi di dalam masing-masing mereka. Demikian juga dengan member-member Jacket Potato, dengan kekurangan-kekurangan yang masih ada, kami menyadari kami juga punya potensi yang ingin terus dimaksimalkan. Kami ingin menjadi seperti isi kentang yang bersih dan penuh manfaat itu; menjadi musisi-musisi yang dapat membawa dampak baik kepada sekitar.
Kenapa Jazz?
Kami memilih Jazz karena kebetulan memang kami sama-sama mempunyai latar belakang musik jazz dan kami menyukainya.
Apa sich visi dan misi kalian sebagai satu band?
Visi dan misi Jacket Potato adalah untuk memperkaya musik Indonesia yang memang sudah unjuk gigi selama ini; untuk membawa impact dan bisa membawa perubahan yang positif ke dalam kehidupan musisi-musisi Indonesia lainnya melalui warna musik, sikap hidup, cara hidup, dan karakter pribadi masing-masing member.

Selama ini sudah ngeband dimana saja nich?
Kami sempat main di beberapa festival dan Jazz cafes seperti UPH Festival, Benton Junction Karawaci, Jajan Jazz Serpong, dan Summarecon Mal Serpong. Kami juga ikut main di Java Jazz Festival tahun ini.
Wah, kelihatannya di daerah Serpong dan Karawaci banyak yang suka dengar lagu Jazz ya?
“Iya benar! Komunitas Jazz di daerah Serpong memang banyak dan banyak di antara mereka adalah musisi-musisi yang hebat pula”, sambut Yoanne.
“Iya benar! Komunitas Jazz di daerah Serpong memang banyak dan banyak di antara mereka adalah musisi-musisi yang hebat pula”, sambut Yoanne.
Lalu goal ke depannya apa nich?
Tentunya agar dapat membawa pengaruh yang besar kepada musisi lain, nama Jacket Potato haruslah dikenal banyak orang dulu. Maka daripada itu, goal kami ke depannya adalah untuk terus memasarkan nama band kami ke industri musik.
Sssstt! Ada rahasia nih… album Jacket Potato yang berjudul ‘Rhythm of Life’ akan keluar September ini. Lagu-lagunya semua asli karya mereka loh, makanya jangan lupa cek di toko musik terdekat kalian ya.
Setelah kami selesai bertanya-jawab ria, aku makan siang bersama mereka lalu pergi ke tempat mereka latihan dan dapat kesempatan untuk bertemu hampir semua personil band ini. Sayang, ada satu member yang sedang berhalangan. Luar biasa! Walau ini hanya latihan, tapi rasanya seperti live music performance yang professional banget! Akupun bisa mengetik artikel ini sambil menikmati lagu-lagu mereka. Asyiknya…
Profil Personil Jacket Potato
Facebook page:
YouTube:
Gihon Y. Lohanda (Gitar)
- Sarjana musik lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) dan sekarang menjadi dosen untuk mata kuliah Electric Guitar, Ensamble, dan Fundamental of Arranging di UPH.
- Gitaris terbaik di event WAGEGA Music Contest 2001 dan Jazz Goes to Campus 2001.
- Pernah bekerja sama dengan Nestor Torres, Doug Cameron, dan Israel Houghton.
Mikha Yohannes (Bass)
- Sarjana musik lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH).
- Mulai belajar bass dengan guru-guru handal seperti Jeffry Tahalele, Bintang Indrianto, dan Indro Harjodikoro.
- Memenangkan MEZZO Jazz Festival 2006 dengan grup bandnya yang terdahulu “QUICKY”.
- Pernah bermain di JakJazz Festival, Java Jazz Festival, Arti Dewi Band, dan Aminoto Kosin Band.
Yoanne Theodora Wijaya (Keyboard)
- Sarjana musik lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH)
- Staf pengajar di Aminoto Kosin Music School untuk kelas piano pop/jazz dan juga aktif bermain di Aminoto Kosin Orchestra dan Twilite Orchestra.
- Pernah menjadi musik direktur untuk orchestra di UPH Music Festival dan membuat jingle untuk beberapa program DAAI TV.
Handy Salim (Drum)
- Lulusan Mainstream Music School dan Farabi.
- Termasuk dalam 4 besar Yamaha Competition sepulau Jawa dan juara dalam Java Jazz Competition.
- Pernah bekerja sama dengan Aminoto Kosin dan Adon.
Revie Pongoh (Perkusi)
- Sarjana musik lulusan Universitas Pelita Harapan dan sekarang menjadi dosen jurusan musik di universitas yang sama.
- Sudah menjadi professional perkusionis sejak 2001 dan pernah bekerja sama dengan Slank, Kerispatih, Erwin Gutawa, Aminoto Kosin, dan Addie M.S.
Cindy Clementine Arman (Biola)
- Sarjana musik lulusan Joseph Haydn Conservatory di Eisenstadt, Austria.
- Pernah bekerja sama dengan Glenn Fredly, Rio Febrian, Ruth Sahanaya, Patrizio Buanne, Erwin Gutawa, dan Aminoto Kosin.
- Sekarang mengajar di Amadeus Music School dan juga menjadi Head Department di Aminoto Kosin Music School.
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.


