Bengawan Solo Tak Pernah Berlalu

Dunia musik Tanah Air kembali berduka. Legenda musik keroncong Gesang Martohartono tutup usia pada hari Kamis, 20 Mei 2010 pukul 18.07 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo.1 Beliau berusia 92 tahun dan ironisnya, hari kepergian Gesang itu bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Seniman santun dan berpenampilan sederhana yang terkenal lewat lagu Bengawan Solo ini tak kuat menahan sakit yang dideritanya terlebih karena umurnya yang sudah renta. Ia mengalami gangguan pada saluran kencingnya dan menderita lemah jantung.

Memang kematian Gesang tidak terlalu mengejutkan mengingat usianya yang kian mendekati seabad. Tetapi hal ini cukup menyentak banyak orang. Rasa kehilangan dialami para penggemarnya di berbagai penjuru dunia. Tak banyak seniman Indonesia yang mampu menghasilkan karya yang mendunia. Kita patut berbangga karena lagu Bengawan Solo sudah terkenal di manca negara dan sudah diperbaharui dalam 3 bahasa.

Terus terang saya sendiri bukan penikmat musik keroncong. Tetapi saya hafal lagu Bengawan Solo. Terlepas dari pelajaran seni musik yang saya dapatkan pada masa berseragam merah putih, lagu Bengawan Solo juga dapat saya dengar di tempat karaoke langganan keluargaku. Kebetulan kakek saya sangat hobi bernyanyi lagu keroncong. Pernah suatu kali saya mengajaknya untuk berkaraoke bersama seluruh keluarga. Merekapun kemudian memilih lagu kesukaannya masing-masing. Tiba giliran kakek saya, sudah saya pastikan bahwa beliau akan memilih lagu keroncong favoritnya karya Didi Kempot sebagai lagu pembukaan. Namun dugaan saya salah. Ketika saya bertanya “Kung-kung2, mau nyanyi lagu apa?”. Beliau dengan mantap menyebutkan “Bengawan Solo”. Jarang-jarang ada seorang kakek berusia di atas kepala 9 yang bisa menyanyikan lagu keroncong dengan luwes. Penglihatan yang sudah tidak tajam lagi membuatnya harus mendekatkan kepala ke  layar televisi untuk melihat teks lagu. Tapi jangan salah, tembangannya sungguh terpadu apik dengan alur musik lagu. Melihat kung-kungku bernyanyi, aku mulai berpikir seindah apa Sungai Bengawan yang menjadi inspirasi Mbah Gesang pada jaman itu sehingga beliau dapat menciptakan sebuah lagu yang kemudian tersohor sampai ke manca negara. Konon, lagu ini diciptakan dalam kurun waktu 6 bulan. Pada kenyataannya kondisi Sungai Bengawan sekarang sangat memprihatinkan karena sungai ini tidak lagi dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari karena polusi.

Pada akhir hayatnya, Gesang berpesan untuk melestarikan musik keroncong. Pesan tersebut disampaikan kepada orang-orang yang ada di sekitar ranjang kematiannya. Semoga musik keroncong tidak hilang ditelan bumi karena sedikit sekali generasi muda yang mau melanjutkan warisan kebudayaan terutama musik keroncong.

Selamat jalan, Pak Gesang! Semoga Tuhan menempatkan engkau di sisi KananNya.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.