Baru-baru ini saya sempat diundang teman menghadiri acara Indonesian Festival 2009 di kampusnya. Acara ini dibentuk khusus untuk memperkenalkan aneka ragam budaya Indonesia baik dalam bentuk tarian, musik, makanan, dsb. dalam tempo dua jam kepada masyarakat kampus di kota kecil West Lafayette, IN, Amerika Serikat. Acaranya cukup baik, makanannya lumayan dan pendatangnya sampai ratusan. Pendek kata, lumayan marak lah.
Salah satu dari bagian acara ini adalah penampilan tarian-tarian daerah. Ada dua tampilan utama, yaitu tari Indang versi Minang Indonesia (Ada versi Malaysia-nya) dan tari Gatotkaca sedang jatuh cinta (Maaf lupa nama tariannya). Tari indang ini (yang ternyata lumayan populer di YouTube) dibawakan oleh murid-murid kampus sendiri yang latihan beberapa bulan. Tarian GatotKaca ini dibawakan oleh seorang budayawan/seniman Bapak I Gusti Ngurah Kertayuda. Pak Ngurah ini artis professional yang jam panggungnya puluhan tahun di depan pemimpin, menteri, kaisar dan sejenisnya (Tarian-tarian beliau dapat ditonton di YouTube).
Semoga saja pembaca sekalian bisa menonton atau sedikitnya mengerti konteks dari kedua tarian ini.
Lalu pertanyaan saya pendek saja. Sejujurnya yang mana yang lebih menarik? Mengapa demikian?
Untuk saya, terus terang saya lebih dapat menikmati indang-indangan yang walau amatiran, tetapi lucu, seru dan variatif. Sedangkan sang gatotkaca, walaupun saya penggemar mahabharata dan baratayuda, saya benar-benar heran dan tidak dapat menikmati dengan sepenuhnya. Mengapa irama gamelannya demikian ? Mengapa gerakannya seperti itu ? Apa yang ditampilkan dalam tempo enam menit itu benar-benar terasa panjang dan monoton.
Lantas saya berpikir lagi, bagaiman tarian-tarian semacam itu dapat awet sampai di abad 22 ini ? Di waktu suatu bentuk seni kehilangan kemampuannya untuk mengekspresikan maknanya, lalu apa perlu dilestarikan hanya dengan alasan politik dan tradisi belaka?
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.


