Gamelan di Tengah Kampung 2

Pada tanggal 14 Juni 2009, Kompas.com meliput berita pendek namun menarik mengenai negara-negara tetangga kita yang mulai mendidik anak-anak sekolah dasarnya mengenal dan mempelajari angklung dan gamelan. Lalu dari komentar-komentar pembacanya, ada yang cukup menggelitik di mana mereka cemas kalau-kalau nanti budayanya dirampas dan diakui oleh tetangga-tetangga kita ini. Dalam hati saya sendiri berpikir, siapa di antara kita dan pembaca Kompas yang secara jujur suka sama beginian? Nonton di TV saja malas.

Pengalaman saya sendiri, saya mengenal dan lebih menghargai gamelan dalam sewaktu saya mengambil pendidikan S1 di University of Wisconsin Madison, Amerika Serikat. Negara bagian Wisconsin, lebih dikenal dengan produk pertanian dan peternakan, di kota kampus laksana kampung di tengah Amerika, ribuan kilometer dari Indonesia. Di sinilah saya diperkenalkan dengan lika-liku gamelan, oleh seorang nenek bule pakar gamelan Jawa dan Bali.

Di kampus ini mereka memiliki satu set lengkap gamelan jawa yang tertata rapi. Lucu juga pikir saya soalnya seingat saya tidak sembarang orang boleh menyentuh alat-alat musik yang dianggap keramat ini, sedangkan di sini semua murid boleh menggunakannya. Asisten dosennya saja yang bule dan masih muda, sudah pakar sekali main bonang. Saya main kenong-nya saja masih kagok-kagok.

Yang paling saya ingat, di kelas yang berisikan puluhan orang itu, hanya saya dan satu anak Bali saja yang dari Indonesia. Lalu entah kenapa nama saya yang lebih sering disebut dan sering diajukan pertanyaan-petanyaan bersangkutan dengan budaya Indonesia. Ironisnya tentu saja saya seringkali hanya nganga atau salah menjawab. Siapa yang tahu kalau dalang itu ada yang wanita ?

Faktanya memang di luar negeri, budaya Indonesia baru terlihat lebih kaya dan canggih. Entah berapa ratus jenis alat musik, komposisi, aliran, yang dianggap ngebosenin atau kampungan itu sangatlah dihargai dan diminati oleh bangsa lain. Dangdut saja bisa tenar di Jepang.

Memang rasanya sangat tak masuk akal kalau kita katakan mereka hendak membajak budaya kita. Tetapi kalau kita sendiri tidak suka, dan mereka lebih menghargai, bukankah itu namanya memang kita yang ngasih? Saya rasa sih ya sudah barter saja, kita toh lebih senang dengan jenis musik milik mereka-mereka.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.