Anggaplah tulisan ini semacam keluhan, atau kurang dari itu, sekedar rengekan. Orang-orang lain juga sudah bicara soal ini dan barangkali saya tidak menambah wawasan baru. Pokok perkaranya gampang saja, yaitu soal bicara. Saya berkali-kali sulit bicara. Kadang-kadang sulit sekali menyampaikan seluruh pemikiran dengan utuh, terpadu, dan runtut menggunakan bahasa Indonesia secara baik. Ini sering mengakibatkan saya bicara dengan lambat, mengulur-ulur suku kata terakhir, dan menggerak-gerakkan tangan tanpa makna.
Sebenarnya mudah saja bicara, kalau mau belepotan dengan istilah-istilah Inggris yang sebenarnya tidak perlu, tetapi saya mau bicara dengan istilah-istilah Indonesia atau yang sudah diindonesiakan. Dalam hal ini, kadang saya merasa berjalan sendiri dan terpaksa merasa konyol karena membela hal yang orang lain anggap remeh dan tidak nyata. Teman-teman saya, orang-orang di jalan, orang-orang di pesawat tivi, di radio, di koran, di internet banyak tidak peduli dengan ini. Padahal menurut saya ini penting.
Ariel Heryanto mengiaskan persoalan mutakhir dalam berbahasa ini dengan gambaran seseorang yang basah kuyup dan masuk ke rumah. Ada tiga unsur di sini: orang, air, dan rumah. Orang melambangkan kita penutur bahasa Indonesia, air melambangkan bahasa asing Inggris yang jatuh dengan deras dari luar, dan rumah adalah kebersamaan kita. Dengan kata lain, penutur bahasa Indonesia kena air tanpa perlindungan yang, atau melindungi diri secara, mangkus sehingga menghasilkan basah kuyup. Tentu di luar sana hujan tetap turun, bahkan bisa jadi makin deras. Tapi bukan berarti kita harus selalu mandi hujan dan basah kuyup setiap hari. Sudah begitu, keadaan basah kuyup itu kita bawa masuk ke dalam rumah. Inilah yang kita lakukan dengan bahasa Inggris dan Indonesia. Kita berbahasa Engdonesia di mana saja (di koran, di pesan pendek, di percakapan antarpribadi, di surat elektronik) dan kapan saja (baik resmi maupun tidak).
Lantas mengapa orang melakukannya? Saya membuat beberapa dugaan dan memberikan contoh-contoh untuk memberikan gambaran.
Contoh 1.
Contoh di bawah ini saya cuplik dari suatu halaman blog yang berisi cara-cara belajar merancang grafis.
“Bila anda pernah bekerja di agency graphic house atau advertising pasti sering mendengar dua kata ini “tone and manner”. Karena biasanya di dalam salah satu item Job brief terdapat kalimat “tone and manner.”
Di dunia iklan, juga di bidang pekerjaan lain yang menuntut pendidikan tinggi, sudah jamak para buruh menggunakan berbagai istilah Inggris. Kata agency, graphic house, advertising, tone and manner, item, dan job brief digunakan begitu saja. Mengapakah? Alasan para buruh sederhana saja, sejak awal mereka sudah menggunakan istilah itu. Mengapa? Karena tidak ada yang mau berkeringat mencari padanan. Siapa yang seharusnya mencari? Sebenarnya siapa saja, asalkan tahu. Namun, akan lebih berkelanjutan jika upaya ini dikerjakan oleh pengurus kelompok buruh iklan. Tentu di antara mereka ada yang tahu seluk-beluk bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan periklanan. Jadi, istilah bahasa Inggris banyak digunakan karena kelambatan menemukan padanan kata untuk istilah-istilah asing.
Contoh 2.
Tetikus. Orang yang mengenal komputer dan tidak malas membaca kemungkinan besar pernah mendengar bahwa mouse diterjemahkan menjadi tetikus. Mengapa orang tidak menggunakannya? Selain seperti contoh 1, alasannya juga sederhana. Mereka malas. Sudah ada air, kok masih malas mandi. Sudah tidak perlu lagi mencari padanan sendiri, masih juga malas memakai. Sebenarnya meskipun mula-mula terasa ganjil, lama-lama biasa juga memakai istilah baru. Bahkan orang sudah lupa kata Inggris dari istilah-istilah padanan berikut ini: akar serabut, akar tunjang, kurang gizi, bujur Timur, rasi bintang, dan lain-lain. Jadi, orang menggunakan istilah Inggris alih-alih istilah Indonesia karena malas.
Contoh 3.
Kelambatan mencari padanan istilah pada contoh 1 membuat istilah-istilah Inggris terlanjur digunakan dalam hidup sehari-hari sehingga orang khawatir jika menggunakan istilah lain maka akan tidak dimengerti atau menimbulkan salah paham. Orang sangat sering menggunakan istilah efisien dan efektif. Kedua istilah ini merupakan istilah serapan. Adakah istilah Indonesian untuk ini? Ada, yaitu sangkil dan mangkus. Apakah orang akan menggunakannya? Saya duga tidak. Mengapa? Karena orang tidak akan mengerti. Atau malah akan mengira sangkil sejenis dengan bungkil, yaitu makanan. Padahal sebenarnya ini juga soal kesengajaan, kesungguhan, dan kebiasaan. Dulu dalam rapat pemuda pejuang bangsa juga tidak banyak yang bisa menggunakan bahasa Indonesia. Mereka berbahasa daerah masing-masing, atau malah bahasa Belanda. Bahkan Indonesia pun dibayangkan akan memiliki bahasa kebangsaan bahasa Jawa, atau bahasa Padang. Tidak banyak pemuda pejuang yang bisa berbicara Indonesia, apalagi berbicara dengan baik. Memilih bahasa Indonesia adalah kesengajaan, dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan dibiasakan dalam segenap pertemuan dan tulisan.
Contoh 4.
Yang keempat ini adalah yang paling sering dituduhkan dengan galak oleh para pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar. Orang beringgris-inggris untuk bergaya-gaya, bernecis-necis, dan bergenit-genit. Baca cuplikan berikut dari koran Kompas hari Jumat, 14 Agustus 2009,
“Sejumlah aksi penggerebekan (raid) tersangka teroris di dua lokasi berbeda, Bekasi, Jawa Barat, dan Desa Beji, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, oleh ”aktor utama”-nya, Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri.”
Orang Indonesia, lebih-lebih suku Jawa, sudah tentu paham apa itu penggerebekan. Jika demikian, untuk apa embel-embel kata Inggris dalam tanda kurung? Untuk siapakah si wartawan bicara? Siapakah yang ada di kepalanya saat menulis itu. Lumrah juga kita jumpai penggunaan bentuk-bentuk campuran yang tidak bakalan dipahami oleh orang Indonesia di luar pusat kekuasaan-keuangan-informasi dan orang asing, yakni bentuk-bentuk campuran, semacam dipush, dideclare, mbooking, ngeadd facebook, dan kata-kata sejenis.
Bicara soal bahasa Indonesia, pokok pentingnya adalah soal guna. Bahasa Indonesia yang menurut sejarah adalah bahasa tanpa pemilik (lain dengan bahasa Jawa) dan, oleh karena itu, bisa digunakan siapa saja adalah bahasa yang dipilih dengan sadar oleh berbagai suku di Indonesia untuk bercakap-cakap di antara mereka sendiri. Bahasa Indonesia berguna bagi Indonesia karena bangsa ini tidak mungkin tercipta tanpa percakapan sehari-hari di kalangan warganya, yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa sangat beragam. Untuk menjadi bahasa bersama, bahasa Indonesia butuh syarat-syarat. Ia mesti diajarkan melalui pendidikan nasional. Dan agar ia mudah dipelajari maka ia harus teratur, tidak bisa seenak jidat dicampur-campur dengan bahasa lain.
Kebiasaan mencampur-campur sendiri ini (Engdonesia), saya duga, mula-mula hanyalah merupakan kebiasaan buruk sebagian orang yang hidup di sekitar pusat kekuasaan-uang-informasi. Sebagian besar suku lain di Indonesia tidak mencampurnya dengan bahasa Inggris, paling banter dengan bahasa Ibu sendiri. Itu saja dalam langgam cakapan sehari-hari. Dalam langgam resmi, ratusan atau malah ribuan suku di Indonesia berkeringat mencoba mengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar untuk menghargai diri mereka sendiri dan orang lain yang mendengarkan.
Kebiasaan buruk bertutur Engdonesia juga punya akibat lain. Ia menghubungkan sedikit orang sembari pada saat yang sama menyisihkan banyak orang. Apa pasal? Karena unsur keinggrisan yang dimasukkan secara genit ke dalam bahasa Indonesia tidak didapat cuma-cuma. Ia didapat dengan duit yang memungkinkan orang bisa mengonsumsi media berbahasa asing, dengan bekal sekolah agar orang bisa mengetahui maknanya, dan dengan pendidikan selera untuk merasa senang dan wajar mengucapkannya. Dan hanya sedikit yang bisa, dan suka, menginggris. Mungkin ini seperti bicara bahasa campuran Belanda-Melayu atau Belanda-Jawa di jaman penjajahan. Hanya sedikit sekali orang yang melakukannya. Sebagian besar rakyat Hindia-Belanda tidak bisa dan tidak suka. Sama halnya, kini, sebagian besar orang Indonesia tidak suka dan tidak bisa bicara Engdonesia. Hanya kelompok elit yang merasa senang dan wajar menginggris. Kesenangan dan kewajaran berlarut-larut mengginggris menghasilkan elitisme sempit, mengabaikan mulut dan telinga rakyat Indonesia yang lain.
Kurniawan Adi Saputro mengajar di ISI Yogyakarta dan melaksanakan program pendidikan media di Rumah Sinema
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.



\”Engdonesia, tanah air ku…\” hehehe j/k (alias Hanya Bercanda!)
Sebagai seorang yang seringkali menuturkan Engdonesia, karena latar belakang pendidikan, saya merasa terlalu dini untuk kita mengangkat persoalan ini sebagai persoalan utama. Masih banyak persoalan yang harus dihadapi negeri ini.
Apa pendapat anda?
yang menjadi batu rintangan untukku berbicara dan menulis bahasa indonesia yang baik dan benar adalah kekakuan dan formalitas saat menggunakannya. mungkin karna terlalu biasa mencampurkan inggris dan bahasa indonesia ya?
Posting serupa…
http://bsulistioadi.wordpress.com/2008/08/22/bahasa-indonesia-yang-makin-teraniaya/
…
Sayang sekali, rasa syukur saya ini sedikit banyak selalu terganggu dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang semakin tidak teratur, yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri. Seharusnya, sebagai penutur asli dari Bahasa Indonesia, masyarakat Indonesia berusaha memperkaya khazanah bahasa ini, dan setidaknya mempergunakannya sesuai dengan kaidah yang benar. Saya sangat kuatir, identitas bangsa kita yang satu ini akan semakin terdegradasi hingga masyarakat sendiri akhirnya tidak mengerti bagaimana seharusnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan akhirnya Negara Malaysia yang “sangat berbudaya dan terhormat itu” mengklaim bahwa akar dari Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang adalah Bahasa Melayu, sehingga Bahasa Indonesia pun HILANG dari catatan dunia.
…
Hal yang paling saya prihatinkan justru adalah ketetapan atau patokan bahasa Indonesia yang tidak kunjung jelas. Bahasa Ingris punya TOEFL, kita tidak punya ujian berbahasa Indonesia yang jelas. Sekali ada, malah banyak orang Indonesia yang gagal. Masalah popularitas, menurut saya kata2 padanan dalam bahasa Indonesia juga harus didukung perangkat bermasyarakat yang jangkauannya luas seperti media massa. Pengenalan kata-kata tsb dari mulut ke mulut tampaknya belum sangkil dan mangkus, Mas. =)
waaaaa….gawat ki…anak2 ku besok aku ajari piye jal???
tulisan kritis yang menyadarkan…sukses ya!