Mitologi Indonesia

Apa makna budaya bagi Indonesia? Sebelumnya, mari kita kesampingkan dulu konsep-konsep idealis tentang budaya. Dari segi pragmatis, apakah budaya bernilai jual atau justru menguras uang untuk melestarikannya? Dalam pandangan seorang seniman kawakan Indonesia, F. Widayanto, soal itu sudah terjawab. Menurutnya, budaya membawa nilai ekonomis buat Indonesia. Buktinya, karya-karya beliau yang kental budaya lokal dikenal dan dikoleksi sampai ke mancanegara. Sejak batik dipatenkan oleh Malaysia, masyarakat Indonesia mulai cemas dan—mudah-mudahan—menyadari kekayaan budaya sendiri. Sekarang, banyak kita lihat para remaja kita pun tak sungkan lagi memakai motif batik sebagai fashion. Tapi, itu saja masih belum cukup. Tren ada masanya, lagipula produksi tekstil yang hanya mengandalkan motif, dapat dengan mudah dijiplak oleh produsen tekstil negara lain. Jika sudah terjadi, tak banyak yang bisa kita perbuat untuk mengambilnya kembali.

Sebagai contoh, F. Widayanto bercerita, beliau melihat bahan-bahan kain made in Italia yang dijual di toko kain di Jakarta, menjiplak motif kain lurik Indonesia. Dengan teknologi dan bahan yang lebih berkualitas, kain tersebut sangat bagus dipakai, indah dan unik. Bisa dibayangkan ke mana uang mengalir? Lalu, pihak mana yang lebih beruntung?

Sebetulnya, banyak sekali inspirasi yang bisa digali dari khazanah budaya Indonesia. Salah satu yang terpenting adalah mitologi. Sayang, anak-anak Indonesia sekarang tidak diasuh oleh orangtua mereka dengan dongeng-dongeng rakyat atau cerita-cerita tentang leluhurnya. Imajinasi mereka lebih banyak mengkhayalkan pahlawan-pahlawan negeri seberang. Padahal, esensi budaya selalu dimulai dari cerita. Dapat kita lihat buktinya, betapa hidup cerita-cerita rakyat dari segala bangsa, legenda-legenda, mitos-mitos, di hati masyarakatnya. Mitologi mengandung pesan, pesan yang sama dari leluhur kita sampai sekarang.

Industri hiburan semacam Hollywood banyak mengambil ide dari mitologi mereka sendiri. Gladiator, misalnya, yang sempat menjadi box office, melestarikan sejarah budaya barat, sekaligus menghasilkan ratusan juta dollar bagi Amerika. Kenapa kita tidak berpikir seperti itu?

Industri hiburan di Indonesia, lebih suka mengadaptasi cerita-cerita yang sudah populer dari luar negeri sebagai jaminan—mungkin—agar produknya laku di pasaran. Padahal kita semua tahu, tidak ada resep pasti untuk menjadi populer dalam dunia hiburan. Saat tema film horor sedang tren, muncullah bermacam-macam film serupa, lalu saat tema-tema Islami disukai, sisanya mengikuti. Imbas paling buruk dari produksi asal tembak ini adalah lama kelamaan baik produsen maupun konsumen melupakan budaya asli Indonesia. Lalu, kapan kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

23 June 2009
11:08 PM

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.