Sebuah Ide Ketika Bermain Gamelan Bali

Image courtesy of Sara Marlowe

Pada hari Minggu, seperti biasa saya pergi kerumah Pak Ngurah untuk latihan Gamelan Bali. Termasuk yang ikut latihan adalah Pak Pius, yang ternyata sudah banyak asam garam manggung diacara-acara daerah di Yogyakarta. Muncul tiba-tiba omongan bahwa budaya Indonesia sudah banyak yang sekarang diclaim oleh Malaysia. Contohnya baru-baru ini adalah Tari Pendet.

Ketika mulai latihan dan sedang bermain, tiba-tiba terpikir ide cara mengenalkan lagi atau memasyarakatkan lagi budaya Indonesia di negara kita sendiri. Salah satu point penting yang disampaikan Pak Pius adalah bahwa budaya itu harus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat itu sendiri. Tidak usah jauh-jauh lihat Cina atau Jepang atau Korea, cukup lihat saja Bali. Pulau dewata itu terkenal karena budayanya dan bisa kita lihat budayanya cukup dirawat bahkan oleh masyarakat lokal Bali itu sendiri.

Kemudian terpikir juga baru-baru ini ada pemilihan Miss Universe. Sayang ternyata Puteri Indonesia 2009, Zivanna Letisha Siregar, gagal mencapai 15 besar, walau diunggulkan dalam poling online. Tapi rasanya kita sudah boleh bangga bahwa Indonesia paling tidak menjadi favorit.

Lalu apa hubungannya antara menjaga budaya dengan Miss Universe? Terpikir kemudian bahwa bukankah sebenarnya acara seperti Miss Indonesia Universe atau Miss Indonesia World sendiri adalah kesempatan yang bagus untuk menunjukkan budaya kita? Dalam pemilihan ajang seperti ini memang biasanya yang dinilai adalah kecantikan, kepintaran dan kemampuan sosial. Tetapi harus diingat bahwa Puteri Indonesia ini pun kemudian akan mewakili Indonesia dalam tingkat internasional.

Kenapa tidak kalau salah satu kriteria pemilihan dalam ajang penghargaan ini adalah kemampuan mereka menunjukkan budaya dari daerah masing-masing. Indonesia memiliki 33 provinsi, dan berasumsilah bahwa setiap provinsi mempunyai perwakilan di ajang Puteri Indonesia. Bagaimana kalau di depan TV nasional, mereka harus menampilkan budaya dari daerah mereka masing-masing, baik itumusik, tarian, cerita daerah, atau bahkan masakan. Justru di ajang TV nasional itu, masyarakat dari Jakarta pun bisa bilang “wah bagus jugaya musik Papua”, atau mungkin warga di Sulawesi Utara bisa melihat “ohini toh tarian dari Aceh”. Malah bisa jadi proses pembelajaran bagi seluruh warga Indonesia.

Dengan semakin banyaknya budaya itu disiarkan, maka harapannya apresiasi terhadap budaya itu sendiri bisa naik. Mungkin saja kemudian muncul anggapan “wah budaya daerah Indonesia akan menjadi sesuatu yang menjadi kebanggaan nasional karena digunakan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai seseorang yang akan mewakili Indonesia di tingkat Internasional.

Seorang Puteri yang mewakili suatu daerah, tidak hanya mewakili suatu wilayah tapi juga budaya didalamnya. Seorang Puteri Indonesia boleh pintar, cantik, dan pintar bergaul, tapi repot juga kalau disuruh menunjukkan budaya Indonesia sendiri bingung atau ga bisa. Sungguh ironis dengan kenyataan bahwa di luar negeri, banyak kali kita membanggakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.

References:

http://www.tokohindonesia.com/aneka/ratu/indonesia/puteri-2004/index.shtml

http://forumbebas.com/thread-62589.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Miss_Indonesia