Pada tanggal 25 Juni 2009, sekitar pukul 4 – 5 PM CST (-06:00 GMT), Google, Twitter, CNN serta aneka pusat situs informasi di internet sempat mandeg terbatuk-batuk. Alasannya? Ternyata ada tsunami akses berita oleh pengguna internet sedunia. Beritanya meredam aneka skandal-skandal pemilu negara, bom-bom teroris timur tengah maupun teriakan-teriakan para pakar ekonomi : Raja Pop Michael Jackson telah meninggal dunia.
Saya pertama kali dikenalin dengan karyanya Bad melalui teman saya. Sungguh menakjubkan! Entah bagaimana caranya, tulisan dan aransmen lagu-lagunya memiliki kelas tersendiri. Gerakan tariannya apalagi. Video-video musiknya pun luar biasa sensasional dan heboh, penuh dengan efek visual yang canggih, artistik dan berkesan. Tak heran jika dia ini digelari ‘raja’ oleh dunia entertainmen. Michael menguasai aneka media dari musik, video game, layar perak sampai permainan rekreasi di Disneyland.
Kalau kisah Michael itu warnanya putih di tahun 80an, maka di tahun 90an itu warnanya hitam. Ini proporsional terbalik dengan warna kulitnya yang semakin lama semakin memutih, berevolusi selaras dengan bentuk wajahnya. Michael yang diidolakan oleh jutaan penggemar itu dicap pedofil, makhluk sinting dan tidak heran bila dikutuki oleh aneka kelompok beragama. Bentuk karya lagunya pun terasa mulai berubah dan sayangnya semakin tenggelam, mungkin mencerminkan kecamuk hidupnya.
Semuanya ini tetapi siapa yang tidak tahu ?
Yang menarik bagi saya adalah bagaimana perjalanan Michael mampu menghidupi hitam dan putih sekaligus. Sangatlah jarang ada artis yang mau dan mampu menembus tembok SARA sesukses Michael. Penggemarnya itu mendunia dan tidak perduli usia, ras, ideologi, kaya maupun miskin, beragama ataupun tidak. Semuanya dapat tersentuh. We are the world, Man in the Mirror, Heal The World ataupun Black or White dapat diminati, dinikmati dan diterima oleh dunia komersil maupun humanis. Lagi-lagi dua dunia yang sangat berbeda bak hitam dengan putih dapat dirangkul olehnya.
Terlepas dari apakah Michael itu raja, artis ultra kaya, manusia berdosa, pedofil sinting, antek-antek iblis ataupun campuran dari semuanya itu; saya rasa karya-karya warisannya itu patut dihormati dan dikagumi. Tidak banyak tokoh di dunia ini, presiden sekalipun, mampu berdampak besar baik di dunia seni budaya maupun kemanusiaan dalam kurun waktu yang hanyalah 50 tahun.
Di tengah-tengah panas peliknya riuh rendah kehebohan dunia, di hari itu tiba-tiba semuanya terkejut dan terdiam sesaat, seolah-olah Michael mengajak kita untuk menghela nafas dan beristirahat.
Terima kasih Pak Michael untuk semuanya, selamat jalan.
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.



lumayan garing ko Handy.. haha.. trims untuk kolum opininya.. berkarya terusss…