“If you’re not uncomfortable in your work as a leader, it’s almost certain you’re not reaching your potential as a leader” – Seth Godin
Kalimat di atas sedikit menggelitik saya, sewaktu saya membaca buku Seth Godin yang berjudul “Tribes”. Ia berpendapat bahwa seorang pemimpin yang baik pasti akan merasa tidak nyaman (uncomfortable). Mengapa? Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang non-typicals. Pemikirannya pasti akan berbeda dari yang lain; ia memiliki visi, nilai, dan tujuan yang mungkin agak nyeleneh, tidak tipikal dengan individu-individu lainnya. Namun, time will tell, bahwa apa yang dipikirkan dan dilakukannya selama ini, yang dikira orang kebanyakan adalah hal yang aneh dan tidak lazim, merupakan sesuatu yang luar biasa, yang memiliki kekuatan untuk mendobrak common borders yang dibentuk oleh common sense manusia, yang biasanya memiliki cenderung untuk mengkotak-kotakkan atau membatasi pikiran manusia. Pada saat itulah, orang tersebut akan diakui sebagai pemimpin dari Tribes, suatu “sekte”, apabila boleh dikatakan demikian, yang menunjukkan betapa kuatnya komunitas ini, yang dimulai dari seorang pemimpin yang kuat.
Kenapa harus tribes? Sederhana, karena sekedar organisasi atau kelompok saja tidaklah cukup. Persaingan semakin ketat, hukum rimba semakin berlaku – survival of the fittest. Mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya akan tersingkir dari arena persaingan. Terlepas dari mazhab apa opini ini berasal, inilah kenyataan yang ada, dan mau tidak mau setiap orang yang ada di dunia ini, baik individu ataupun kelompok, harus menghadapinya. Masalahnya, dunia bergerak dalam kecepatan yang sangat rapid, yang secara klise dapat diterangkan sebagai efek globalisasi dan kemajuan teknologi. Menanggapi ini, setiap individu akan membentuk kelompok-kelompok untuk mengikuti perkembangan zaman, supaya tidak tersingkir. Untuk membentuk kelompok yang kuat yang tidak kalah oleh kemajuan zaman, diperlukan seorang pemimpin yang kuat pula, yang tidak dapat dikalahkan oleh kemajuan zaman. Kelompok yang dipimpin oleh pemimpin seperti ini yang nantinya akan disebut sebagai tribes.
Sebagai contoh, Seth Godin menggunakan cerita Steve Jobs, co-founder sekaligus mantan CEO Apple, Inc, yang sekarang menjadi chairman perusahaan paling valuable di dunia tersebut. Mendirikan perusahaan ini pada tahun 1976 bersama Steve Wozniak, Jobs memiliki visi besar untuk Apple yang mungkin akan disangka “gila” dan mustahil untuk dilakukan oleh orang-orang yang hidup pada masa itu, yakni mematahkan “tiran” perusahaan komputer terbesar di dunia saat itu, yakni IBM.
Untuk sekedar info, pada tahun itu komputer bukanlah sesuatu yang mudah ditemukan di tiap rumah seperti sekarang. Komputer saat itu merupakan barang eksklusif yang harganya sangat mahal, dan hanya dimiliki kalangan tertentu, seperti militer dan pemerintahan, karena harganya yang sangat mahal dan ukurannya yang raksasa.
Pada saat itu, Apple didirikan dengan pemikiran bahwa setiap orang berhak memiliki komputer yang user-friendly untuk diletakkan di rumahnya masing-masing. Dan untuk itu, Apple akan selalu berusaha untuk think differently. Mungkin orang-orang akan menyangkan bahwa duo Steve ini adalah orang gila. Mana mungkin IBM, yang sudah puluhan tahun berkuasa di dunia teknologi, dipatahkan dominasinya? Mana mungkin komputer diperkecil perangkatnya dan dimiliki oleh setiap orang di rumah mereka masing-masing dengan harga terjangkau? That’s impossible! Insane! Only crazy people would think that way. But, say what? Mungkin benar kata pepatah, bahwa ignorance is a bliss. Lihatlah Apple sekarang; produk-produknya akan membuat setiap konsumen yang melihatnya terbelalak dan kehabisan kata-kata, karena setiap produk yang mereka ciptakan boleh dikatakan sebagai produk yang tidak disangka-sangka dapat dibuat oleh perusahaan apapun di dunia. Itulah sebabnya mereka menjadi perusahaan paling valuable di dunia saat ini, dengan pendapatan sebesar US$65.23 milyar pada tahun 2010.
Sekian mengenai Apple dan Steve Jobs-nya yang fenomenal. Kita kembali ke inti judul ini, kenapa kita ingin menjadi – you name it – apapun yang kita inginkan. Sewaktu ditanya, ingin jadi apa nanti di masa depan? Setiap orang pasti memiliki jawabannya sendiri. CEO perusahaan, direktur, manajer, bos, entrepreneur, cendekiawan, menteri, presiden, dll – yang apabila digeneralisasikan dapat diringkas menjadi 1 kata: pemimpin.
Pertanyaan berikutnya, mengapa manusia ingin menjadi “pemimpin” tadi? Sederhananya, karena manusia ingin sukses. Terlepas dari definisi sukses yang relatif untuk tiap orang, makna dari “sukses” tersebut dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang nyaman, suatu comfort zone.
Berkaca dari pernyataan Seth Godin di awal tulisan ini, juga contoh kasus mengenai Steve Jobs yang boleh dikatakan, apakah kita dapat mengkategorikan pemimpin-pemimpin yang memiliki motivasi untuk “hidup mudah”, yang saya yakin merupakan motivasi pemimpin kebanyakan, sebagai sesuatu yang benar? “Kenapa ingin mendirikan perusahaan sendiri?” “Kan enak, saya pemimpinnya”. “Kenapa ingin jadi presiden?” “Kan enak, berkuasa.” “Kenapa ingin jadi CEO?” “Kan enak, duitnya banyak”, dan sebagainya, dan sebagainya. “Bro, intinya follow your passion kan?”
Saya semakin tidak yakin dengan anjuran tersebut. Apabila kita mengatakan follow your passion, maka setelah ditelusuri apakah passion kita, jawabannya tidak akan jauh-jauh larinya dari kekuasaan dan kekayaan. Setiap orang bisa memberi jawaban yang klise tentang makna kekuasaan dan kekayaan atau hal-hal lain, namun pada hakekatnya tetap saja inti dari semua itu merupakan greed, bukan?
Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa di dalam membuat pilihan dalam hidup, follow your burden, not your interest. Hah? Edan juga nih orang. Masa suruh ikutin beban? But it’s real. Tidak mungkin ada pemimpin yang akan merasa uncomfortable, seperti yang dikatakan Seth Godin, apabila ia hanya mengikuti passion-nya, yang mungkin sekarang dapat kita ubah terminologinya menjadi interest-nya. Dengan mengikuti beban, maka pemimpin tersebut akan merasa tidak nyaman, dan dalam ketidaknyamanan itu, potensi sesungguhnya dari pemimpin tersebut akan terlihat. Bukan berarti saya menganjurkan setiap pemimpin untuk masokis, namun di sini, saya bermaksud menyatakan bahwa janganlah kita menjadi pemimpin yang selalu mau cari nyaman. Apabila kenyamanan tersebut merupakan motivasi utama kita dalam menjadi seorang pemimpin, maka kita telah mengambil pilihan yang salah, dan kita tidak akan menjadi pemimpin yang baik.
Dengan demikian mungkin akan terjawab mengapa pemerintahan di Indonesia, baik pusat maupun daerah, tidak pernah benar dan selalu rusak. Karena semua pemimpinnya hanya mau cari nyaman. Tidak ada semangat untuk mengabdi dan berkorban bagi negara. Orientasinya adalah Return on Investment dari biaya kampanye politik yang telah dikeluarkan yang biasanya menunjukkan jumlah angka nominal yang menakjubkan besarnya. Tidak heran terjadi korupsi, dan setiap kebijakan yang diambil selalu memiliki aroma kepentingan politik dari partai-partai politik mayoritas.
Sekiranya kita semua belajar untuk meninggalkan comfort zone sebagai motivasi utama menjadi seorang pemimpin. Everyone want to be a leader. Of course. Namun alangkah baiknya sebelum menjadi pemimpin kita menjadi seorang murid yang baik, yang mau belajar dan memikirkan dengan benar setiap motivasi, beban, dan tujuan kita menjadi seorang pemimpin. Dengan demikian, potensi kita akan keluar sepenuhnya. Sulit? Pasti sulit, karena itu merupakan tindakan non-typicals. Namun, time will tell. Steve Jobs telah membuktikannya. Now, it all comes down to us.
“Because people who are crazy enough to think that they can change the world, are the ones who do” – Steve Jobs
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.
Image credit: http://www.filetransferplanet.com


