PHK

Jam berdentang enam kali.

Dengan malas Bram melihat ke arah jam ya setia melekat di dinding depan tempat tidurnya.

Hatinya begitu cemas. Betapa tidak, sudah beberapa hari ini setiap hari hilir mudik keluar masuk kantor-kantor dan perusahan-perusahaan yang iklannya bertengger di harian setempat.

Dia sadar umurnya sudah tidak muda lagi…, tidak memenuhi syarat seperti yang diminta dalam bunyi iklan lowongan kerja. Namun tetap ia berusaha, dengan harapan semoga yang memberi lowongan akan menerimanya saat membaca resumenya.

Namun seperti yang sudah-sudah lagi-lagi dia gagal mendapatkan kerja.

“Ah biarlah, kerja apapun akan kutrima, tak usah milih-milih yang penting kerja,” gumamnya sembari berjalan ke kamar mandi.

Sudah sejak sebulan lalu Bram terkena phk, dia ingat benar hari itu tanggal 15, Senin siang.

Saat dia sedang membuka bekal yang disiapkan Sumi istrinya, tiba-tiba mas Tomo, managernya, yang juga sekaligus teman kuliahnya dulu, menghampirinya.

“Hari ini kamu ikut aku makan di rumah makan seberang Bram. Ada hal yang ingin kubicarakan”, kata Tomo.

Tercekat hati Bram, “Jangan-jangan… ah tidak.. tidak, Tomo tidak mungkin setega itu. Tapi.., tapi ah sepertinya tempat kerjaku juga terkena imbas dari resesi global ini”

Bram tahu benar, banyak order dari luar yang dibatalkan. Dia sering melihat Tomo begitu gundah dengan keadaan perusahaan belakangan ini. Sering dilihatnya Tomo duduk melamun sambil menghela nafas. Apalagi sudah beberapa orang di kantornya yang diminta tidak datang lagi.

“.., dan apakah hari ini giliranku?”, pikir Bram dengan cemas. Dibungkusnya kembali bekal yang sempat dibukanya tadi.

Berbegas ia menuruni tangga menuju ke rumah makan di seberang jalan.

Disana ternyata Tomo telah menunggu. Di sampingnya ada juga Broto yang bekerja di bagian keuangan. Mereka bertiga memang teman akrab sekampus yang kebetulan merantau dari kota yang sama.
Waktu Tomo membuka perusahaan patungan export meubel, Bram dan Broto adalah yang pertama-tama dihubungi untuk membantu.

Kalau diingat-ingat sudah hampir 10 tahuh mereka bekerja sama.  Waktu bergabung dahulu, Bram sebenarnya sudah bekerja di tempat lain. Statusnya juga sudah menjadi bapak, dengan dua anak gadis. Nancy yang merantau di Solo dan Stela yang sedang menyelesaikan skripsi kuliahannya. Hanya Broto yang waktu itu masih bujangan. “Masih belum laku mas,” katanya sembari tersenyum, kalau Bram dan Tomo menanyakan statusnya. Lima tahun yang lalu, barulah Broto menikah. Sekarang dikaruniai tiga anak berumur 5 tahun, 3 tahun dan seorang bayi.

Bram berjalan kearah kedua temannya.

Ditariknya kursi di samping Broto.

Sambil menunggu pesanan makanannya, Tomo mulai mengutarakan maksudnya memanggil mereka berdua.

”Begini Bram dan Broto, kalian adalah teman lamaku, tak tega rasanya untuk mengutarakan hal ini. Tetapi mitra usahaku benar-benar menyatakan tentang kelemahan kondisi keuangan saat ini.
Kalian tahukan berapa banyak order dari luar yang dibatalkan?” ujar Tomo. “Belum lagi menipisnya persediaan bahan baku di kantor.”

“Mitraku minta untuk aku mengurangi lagi beberapa pegawai. Sopir juga sudah kuberhentikan. Tambah lagi beberapa orang lain.”

“Sayangnya pengeluaran kantor masih berat. Sempat aku pertahankan kalian berdua…, namun rupanya salah satu harus ada yang mengalah.”

“Aku benar-benar tak ingin kehilangan salah satu dr kalian”, kata Tomo sembari menatap dengan rasa bersalah.

Bram menghela nafas dalam-dalam. Dia tahu seandainya dia bersikeras, pasti Tomo akan lebih mempertahankan dia. Posisinya di kantor cukup vital. Di samping bekerja di bagian promosi, Bram juga sudah dipercaya untuk pembelian bahan. Tambah lagi istri Tomo juga temen baik dari Sumi.

“Tapi pantaskah aku?”, pikir Bram.

Broto lebih memerlukan pekerjaan ini. Anak-anaknya masih begitu kecil. Istrinya tidak ada pendapatan. Lain dengan Sumi yang kadang dapat menerima order menjahitkan baju.

Dengar-dengar istri Broto juga suka sakit-sakitan.

“Biarkan Broto yang berkerja Bram,., dia lebih membutuhkan,” ujar Bram dalam hati.

“Tapi bagaimana dengan aku?, siapa yang masih mau memakai aku di saat-saat seperti ini? Dengan usiaku ?”

Begitu berkecamuk batin Bram.

Ditutupnya mata sejenak membayangkan akan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapinya setelah phk.

Tetapi.., tetapi.., seakan-akan terdengar isak tangis anak Broto yang merengek minta makan.

Entah kekuatan dari mana, dengan mantap Bram berkata.

”Mas Tom, biarlah aku yang mengundurkan diri. Broto lebih memerlukan pekerjaan ini mas…”

Belum selesai dia  berbicara, Broto sembari menahan tangis memeluknya erat-erat.

“Terima kasih Bram, kau benar2 temen sejatiku…”

Tok tok.

Terdengar ketukan di pintu kamar mandi.

“Sudah selesai belum mas mandinya? Sarapan dan bekal mas sudah aku siapkan. Aku pergi sebentar ke tetangga, mengambil jahitan, mumpung orangnya belum pergi.”

Tersentak Bram dari lamunannya.

Buru-buru di selesaikannya mandinya.

Yah hari ini dia harus kembali bejuang mencari kerja. Tak tega dia melihat istrinya menjahit sampai larut malam. Nancy akan pulang dalam beberapa hari ini, sambil memperkenalkan calon menantunya.

Sampai saat ini dia tidak memberitahukan hal ini kepada istri dan anak-anaknya. Setiap pagi dia masih rutin pergi dan pulang sore seperti biasanya. Dia tidak ingin istri dan anak-anaknya kecewa karena dia kena phk.

Seusai sarapan, Bram bergegas berangkat mengendarai mobil tuanya. Dia tidak mau orang-orang rumah curiga. Sumi masih mengambil jahitan dan Stela sejak beberapa hari sedang studi magang keluar kota. Mungkin hari ini dia balik…

Bram harus berangkat tepat waktu. Semalam dia melihat ada lowongan di daerah Pasar Minggu.

“Moga-moga aja kali ini aku berhasil”, bisiknya sambil menutup pintu rumahnya.

Sekitar pukul 11 pagi, Bram sampai di perusahaan. Setelah berbasa-basi, lagi-lagi kegagalan yang diterima.

Dengan lemas Bram menuju kemobilnya.

Ah benar-benar tak ingin pulang. Benar-benar tidak ingin melihat kekecewaan di wajah orang-orang yang disayanginya. Bahagia terbesar bagi Bram adalah apabila dia melihat senyum Sumi, Nancy dan Stela.

Disekanya peluh yang mengucur deras di kepalanya karena kepanasan. Kepala serasa begitu berat, seakan-akan ada godam yang  menghantam. Pening, lesu, putus asa bercampur aduk.

Dilihatnya jam tangan Seiko yang melingkar di tangan kirinya.

“Eh masih siang. Aku harus berhenti di taman dulu sambil menunggu waktu bubar kantor.”

Bram ingat Stela akan pulang sore ini. Dia menyempatkan diri membeli kue kesukaan putrinya sebelum pulang.

Sekitar jam 5 ketika Bram hampir sampai di ujung gang dekat rumahnya, tiba-tiba mobil tuanya mogok.

Dicoba berkali-kali tetap saja tidak mau jalan. Hampir 1 jam Bram mengutak atik mobilnya, akhirnya ia menyerah. Setelah mengunci mobilnya, Bram bergegas pulang berjalan kaki.

Dibukanya pintu pagar pelan-pelan. Ingin dia memberi kejutan ke putrinya. Dilupakannya sejenak kekesalannya hari ini. Gagal untuk dapat kerja, hampir keserempet omprengan, mobil mogok.

“Ah biarlah besok baru aku pikirkan lagi”, gumamnya sembari membuka pintu depan rumahnya.

Tiba-tiba dia mendengar pembicaraan istri dan anaknya.

”Kasihan ya ayah kalian. Broto beberapa hari yang lalu mengucapkan terima kasih ke ibu, karena ayah mengalah untuk mundur dari perusahannya. Tapi ayah kalian setiap hari masih tetap pergi dan pulang. Seolah-olah tetap bekerja, agar kita tidak khawatir. Ibu sering melihat ayah sampai larut malam masih memberi tanda di koran. Tak tega menanyakannya.”

“Yah Stela juga sudah tahu bu, kemarin ini istri pak Tomo juga mengucapkan terima kasihnya ke Stela karena bisa saling mengalah. Tetapi sebaiknya nanti bila ayah pulang, kita tetap pura-pura saja tak tahu ya bu. Supaya ayah tak kecewa.”

Terhenyak Bram mendengar pembicaraan istri dan anaknya, tidak terasa ada air yang hangat mengalir keluar dari matanya.

Ah begitu besar kasih sayang istri dan anak-anaknya terhadapnya.

Ditutupnya kembali pintu pagar depan rumahnya.

Lalu Bram memanggil-manggil orang rumah untuk membuka pintu, seolah-olah dia baru sampai.

Besok aku akan mencari kerja lagi, tetapi besok aku akan berterus-terang ke istri dan anakku.

Tak perlu lagi ada yang kututup-tutupi.

Ah leganya….

Jakarta, 1 Februari 2009
Oleh : OXIMILCO

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.