Baru-baru ini, aku mengunjungi kembali kota kelahiranku yang telah lebih dari tiga puluh tahun aku tinggalkan sejak kepindahanku ke Jakarta. Salatiga, yah Salatiga. Aku berangkat dengan kereta api dari stasiun Gambir menuju ke Semarang, dan meneruskan perjalanan dengan mobil.
Sepanjang perjalanan kereta, pikiranku kembali ke masa lalu. Kucoba mengingat kembali keadaannya waktu dulu. Aku ingat dengan jelas, dari arah Semarang begitu mendekati kota Salatiga, yang pertama-tama kita rasa adalah sejuknya udara. Begitu masuk kota, kita akan mulai dengan jalan Tuntang (sekarang jalan Diponegoro). Lalu sampai di tikungan ada hotel kuno peninggalan Belanda yang bernama hotel Kaloka. Di sebelahnya ada Sekolah Kepandaian Putri (SKP). Lalu ada satu jalan menurun menuju ke kolam renang yang harus bayar untuk masuk. Tak jauh dari situ terdapat sungai-sungai yang bisa untuk mandi atau renang gratis. Sungai-sungai tersebut terbagi menjadi tiga bagian: yang satu disebut Kali Lanang (laki-laki), yang kedua disebut Kali Wedok (wanita) dan yang ketiga tak bernama.
Begitu kita balik arah naik jalan ke atas, ada satu taman yang bernama Taman Sari. Taman itu lengkap dengan lapangan tenis. Setelah itu masuk ke jalan utama. Dulu disebut jalan Solo, sekarang Jalan Jendral Soedirman. Jalan ini lurus, dan di ujung jalan nampak gunung Merbabu berdiri dengan megahnya. Di jalan ini ada halte bis yang jalanannya menjorok kebawah. Lalu ada pasar Anyar dengan deretan pertokoan di kanan kiri jalan. Orang-orang menyebutnya Pecinan. Di jalan ini terdapat bioskop Reksa, rumah makan Malang (yang mungkin pemiliknya asal Malang), dan di ujung jalan ada tangsi militer dan toko roti Tegal yang terkenal dengan roti Sosesbrut-nya.
Dekat dari sekolah Tionghoa, terdapat jalan yang disebut jalan Kotapraja (sekarang jalan Soekowati). Di jalan ini ada kelenteng yang memproduksi enting-enting gepuk khas Salatiga dengan merk enting-enting cap Klenteng dan di ujung jalan ini terdapat kantor pemerintahan Salatiga di depannya banyak terdapat pohon kenari yang rimbun dan pohon asem. Aku dulu suka mencari kenari disini. Di dekat daerah ini ada bioskop “Rio” dan belok ke kiri dari jalan ini, ada jalan Kesambi dengan warung soto ayamnya dan kedai es, belok kanan ke jalan Pemotongan ada satu warung makan Ping Siong, yang pemiliknya asli dari Tiongkok, dulu masakan mi dan nasi gorengnya terkenal lezatnya, cocok dengan lidah kita. Dulu warung ini ramai sekali tiap hari. Sejak pemiliknya meninggal, kini di teruskan oleh anaknya, sepertinya tidak seenak atau seramai dulu.
Pikiranku kembali melayang, kali ini membayangkan tempat teman sekolahku dulu, Hanny. Rumahnya luas lengkap dengan pekarangan yang tampak asri dengan bunga-bunga dan pohon-pohon buah. Dia sudah setuju untuk mengajakku bernostalgia ketempat yang dulu kita biasa kunjungi bersama2.
Singkat cerita, setelah sampai di stasiun Tawang Semarang, lalu dengan taksi ke Salatiga, ternyata semua yang aku bayangkan dari semula berbeda jauh dengan yang apa yang aku temukan. Begitu masuk ke Salatiga, udaranya panas. Di jalan Diponegoro terdapat fakultas Satyawacana, hotel Kaloka (yang sedang dibongkar, entah untuk apa). Tamansari plus lapangan tenisnya sudah menjadi toko-toko, pasar Anyar sudah menjadi pasar modern lengkap dengan penjual-penjual kaki-limanya. Apa yang dulu adalah tangsi tentara sudah tak ada, berganti dengan rumah biasa dan kios-kios buah. Pohon-pohon kenari pun juga sudah lenyap.
Kendaraan-kendaraan semrawut parkir-parkir di sepanjang jalan raya. Bioskop Reksa juga sudah tutup dan malah terdapat tulisan di kontrakkan. Andong-andong juga parkir seenaknya, berbagi dengan becak yang dulu tidak ada dan pedagang kaki-lima memenuhi sebagian badan jalan.
Sorenya Hanny mengajak aku ke rumahnya. Ternyata sekarang dia sudah merasa cukup puas menempati satu ruangan yang tak begitu besar. Sebagian rumahnya ditempati mahasiswa. Pohon2 di pekarangannya juga sudah dibabat, diganti dengan kamar-kamar kost.
Salatiga yang dulu begitu asri dalam kenanganku, sekarang ternyata sudah berubah banyak. Sudah jarang terdengar lagi kicau burung-burung dan sudah tidak sesejuk dulu lagi.
Oh..… Salatigaku.
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.



Membaca tulisan SALATIGA kita bisa melihat AKIBAT dari kerusakan lingkungan yg perlu dijaga dan dilestarikan.
Bagaimana dengan Kota-kota lainnya? Walahualam yang tau cuma orang-orang lama saja yang sudah uzur.
BRAVO SALA3
ternyata iya juga…sudah separah ini keadaan kota salatiga….
dari kecil aku tinggal di kota ini. sampe saat skrg,memang bener sudah buanyak yg berubah.
bangunan2 tua peninggalan Belanda sudah berubah,bangunan dan pusat2 pecinan yg dulu keliatan anggun juga udah kena modernisasi….
so,JOGLO SEMAR (JOGja soLO SEMARang) ato sebutan Salatiga van Java yg dulu pernah kita sandang sudah lagi ga relevan terhadap kondisi sekarang….
makasi buat yg nulis dan upload artikel ini….makasi udah mengingatkan betapa berubahnya Salatiga….
semoga makin banyak orang yg sadar dan mau bantu buat mengembalikan kondisi ini seperti dulu lagi….
\”Where\’s my dew? I can\’t find any dew again in this town every morning….\”
Rumah Makan Malang Jalan Jendral Sudirman 44 Salatiga : sejarahnya adalah kakek asli Tiongkok yang bermukim di Jombang (di Jombang juga ada Rm Malang di jalan Ahmad Yani) Saudara2 kakek juga buka RM Malang di Solo (dekat pasar gede) dan di Jogjakarta, Jl Maliboro. Hingga saat ini yang masih beroperasi hanya di Jombang.
Sedih melihat Salatiga seperti ini kondisinya.
tetapi salatiga daerah netral warganya rata2 ramah