“Ketemu Christian Sugiyono di GI. Asyik, dapet foto dan tanda tangannya!
10:10 PM 25 Agustus lewat Twitterberry”
“Melinda Supriyanto telah mengganti statusnya dari Dalam Sebuah Hubungan menjadi Lajang.”
“Video Musik Mbah Surip: Tak Gendong.”
Apakah pembaca bisa mengenal sumber pesan-pesan di atas? Kemungkinan besar kalau anda tidak tinggal di daerah pegunungan terpencil di mana tidak ada akses Internet (terbukti karena anda sedang membaca artikel ini) atau alergi berat dengan perkembangan jaman, anda bisa mengetahui medium apa yang menghasilkan pesan-pesan tersebut. Twitter, Facebook, dan YouTube adalah situs pertemanan sosial yang sedang panas-panasnya membius penghuni seluruh dunia. Bukan saja remaja yang gampang bereksperimentasi dengan teknologi baru bereaksi heboh, para pengusaha, artis-artis terkenal, dan juga tokoh politisi turut ber-Twitter-ria ataupun memberikan kabar terbaru dalam kehidupan mereka melewati situs-situs tersebut. Boleh dibilang situs – situs pertemanan sosial ini telah berhasil menjadi medium subur untuk bersosialisasi bagi para pengguna yang sudah saling mengenal ataupun yang belum. Akan tetapi, jika kita melihat ke belakang, tren situs pertemanan sosial ternyata tidak selalu menanjak. Banyak situs – situs pelopor seperti Friendster, MySpace, dan lainnya yang sempat berkembang pesat pada awal mulanya malah mengalami stagnasi di jumlah angka pengguna dan tidak dapat mempertahankan keaktifan para anggotanya.
Dapatkah Twitter, Facebook, dan YouTube terus mempertahankan kepopuleran mereka? Facebook diciptakan oleh Mark Zuckerberg, mahasiswa jebolan Universitas Harvard pada tahun 2004. Pada mulanya, Facebook dibuat sebagai database petunjuk yang memperlihatkan foto mahasiswa serta dosen sekolah beken tersebut (Mangkanya diberikan nama “Face”book). Tidak lama kemudian, Mark mulai memperbesar jaringan database ini untuk mencakupi institusi Ivy League lainnya, yang ternyata disambut hangat oleh para mahasiswa dan akses diperbesar ke publik sampai ke seluruh dunia. Saat ini, terhitung ada 250 milyar pengguna Facebook yang aktif [1].
Kalau YouTube digunakan untuk menjadi sarana penyimpanan video yang bisa ditonton gratis, Twitter adalah mikroblog yang menyerupai SMS di mana panjang maksimal teks pembaharuan (status update) hanyalah 140 karakter [2]. Keistimewaan dari miroblog ini yang mampu menarik minat para penggunanya diawali dari rancangan yang sederhana, dimana para penggunanya tidak harus memiliki akses ke Internet untuk tetap aktif. Pemilik account Twitter dapat terus aktif dengan SMS melalui telepon genggam masing – masing.
Ternyata motivasi untuk memperluas koneksi dan berteman sudah tidaklah cukup untuk mempertahankan keaktifan para pemilik account. Pendiri situs-situs pertemanan sosial menyadari hal ini. Oleh sebab itu, mereka terus berusaha untuk mendapatkan ide-ide baru yang dapat membuat pemilik account tetap aktif. Facebook mulai meluncurkan aplikasi-aplikasi baru seperti permainan online, kuis, ajang perkenalan dengan pengguna Facebook lainnya yang masih lajang dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi ini ternyata berhasil meningkatkan interaksi sesama anggota dan juga meningkatkan keaktifan mereka untuk mencari sesuatu yang baru di Facebook.
Salah satu penyebab lain dari penurunan keaktifan para pengguna adalah kepemilikan account dari beberapa situs yang berbeda. Ada kecenderungan para pengguna situs pertemanan sosial untuk menjadi kurang aktif ketika mereka menemukan situs baru yang memiliki jaringan yang lebih luas dan lebih populer. Menurut Charlene Li, konsultan sosial media, situs-situs besar seperti Yahoo, Google, dan Microsoft mungkin bisa mempersatukan identitas pengguna untuk banyak situs pertemanan sosial [3]. Dengan begitu, seorang pengguna Internet tidak perlu masuk ke situs MySpace, Facebook, dan YouTube masing-masing karena dia hanya perlu sign in dengan menggunakan account Yahoo-nya. Ada beberapa program applikasi yang bahkan bisa menggabungkan jaringan teman dari sebuah situs ke situs lainnya, seperti yang sudah mulai dilakukan oleh Twitter dan Facebook. Merangkap sebagai aplikasi Facebook, Twitter sekarang juga bisa diakses melalui Facebook.
Melihat keberhasilan Facebook, Twitter, dan YouTube dalam merancang situs-situs pertemanan sosial, muncul pertanyaan: dari manakah situs – situs ini mendapatkan pemasukan untuk menggaji para ahli, apalagi selama ini para pengguna dapat dengan bebas membuka account tanpa biaya? Menurut salah satu artikel di situs Economist.com, Facebook mendapat pemasukan melalui iklan yang dipasang oleh para agen pemasaran. Iklan-iklan di Facebook masih mengalami sedikit kendala dimana parapenguna Facebook tidak menghiraukan iklan ketika mereka sedang asyik mem-browsing profil teman-teman mereka. Akan tetapi, tim Facebook sedang bereksperimen untuk memperbarui interface desain situs tersebut dimana iklan-iklan akan dapat menarik perhatian dan tidak mengganggu aktivitas bersosialisasi para pengguna. Situs ini juga sudah mulai mengimplementasi sistim pembayaran untuk memudahkan transaksi online dan dari transaksi itulah Facebook mendapatkan komisi.
Peluang besarjuga terlihat dari situs-situs tersebut untuk dapat mengamati gaya berbelanja penggunanya. Dengan mengikuti konsep Amazon.com di mana servernya mengikuti jejak berbelanja online pengguna sehingga bisa memberikan rekomendasi tentang barang apa yang mungkin menarik di mata sang pengguna, situs pertemanan sosial akan menjadi lebih besar. Ditambah lagi dengan review positip dari kawan-kawan didalam lingkaran sosial sang pengguna, ia semakin percaya atas keputusannya untuk membeli barang yang mungkin masih asing di matanya.
Kami rasa masa depan situs pertemanan sosial akan terus cerah dan masih tetap menjadi target buat agen pemasaran memasang iklan-iklan. Teman-teman yang hobi programming juga masih berpeluang untuk mendapatkan upah yang baik di bidang ini dengan menyalurkan konsep yang masih fresh dan tahan lama. Apakah teman tertarik untuk masuk tim kreatif situs pertemanan sosial?



http://www.cnn.com/2009/TECH/09/16/facebook.profit/index.html
Facebook sendiri baru mulai profit last quarter after they reach about 300 millions users. It is faster than what they thought, but I think we still need to see whether they can hold the steady profit growth.
Mengingat penduduk planet bumi hanya sekitar 6.7 milyar (6.7 billion people menurut http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_population), maka tidak mungkin pengguna Facebook bisa mencapai 250 milyar.
Terjemahan \”250 million users\” harusnya \”250 juta pengguna\”, karena million=juta, dan billion=milyar. Di statistik Facebook sekarang tercantum sudah mencapai 300 juta pengguna, jadi mungkin bisa sekalian dikoreksi.
Salam aspirasi dari Singapore
wah, kadang waktu terjeramahin million menjadi juta suka terbalik-balik. makasih ya boy untuk koreksiannya!