Taichi

Artikel ini ditulis oleh Lea Yulianna, ibu dari Meyrien Janevine. Untuk melihat artikel lain yang ditulis oleh Meyrien Janevine, bisa meng-klik nama Lea Yulianna.

Taijiquan atau Taichi adalah sebuah seni bela diri dan senam kesehatan dari negara Tiongkok. Menurut legenda, Taichi diciptakan pada abad ke-12 oleh seorang pendeta Tao bernama Zhang Sanfeng dan dikembangkan oleh Chen Wang Ting. Dari situlah murid-murid generasi berikutnya memodifikasikan gaya “Chen” ini menjadi gaya “Yang” di abad ke-16, gaya “Wu” di abad ke-17, dan gaya “Sun” di abad ke-19. Hari ini, senam Taichi telah berkembang menjadi gaya populer yang lebih mudah di ikuti dan bermanfaat bagi kesehatan.

Meskipun gerakan-gerakan Taichi tampak lambat dan sepertinya tidak menguras tenaga seperti senam aerobic ataupun cardio, senam Taichi bila dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menguras tenaga meskipun gerakannya low-impact. Maka dari itu, senam ini boleh dikatakan hanya diminati oleh orang yang sudah berusia agak lanjut. Jarang sekali anak-anak muda yang berminat karena disamping biasanya dilakukan sewaktu subuh sebelum matahari terbit, gerakannya juga kurang energik. Begitulah kata anak saya.

Saya yang saat ini setiap hari melakukan senam Taichi bersama para peserta lain yang kebanyakan adalah Opa-opa dan Oma-oma, juga sering menyaksikan kejadian yang agak menggelikan, seperti beberapa peserta yang sambil menarik dan mengeluarkan nafas tetapi tidak bisa berhenti mengobrol. Sang pelatih hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena sudah menegur kami untuk tidak mengobrol selama latihan. Tapi tetap saja ada yang bandel. Tak jarang juga yang melakukan gerakan asal-asalan dan beristirahat atau pulang sebelum senam selesai, ditambah dengan orang-orang tua yang baru datang menjelang senam selesai. Walaupun jarang melihat mereka sampai berkeringat sedikit pun, keluhan tetap keluar dari mulut mereka, “Capek deh!”

Yang paling seru adalah dimana Pak Pelatih berteriak “Selesai!” Seketika tampak kelegaan di wajah-wajah tua mereka. Mungkin lega karena hari itu Tuhan masih mengijinkan mereka untuk mengikuti senam karena ada beberapa peserta yang tiba-tiba sakit atau berhalangan datang karena faktor usia.

Setelah itu, Pak Pelatih mengajak peserta untuk bersama-sama meneriakkan “Hah hih huh heh hoh!” di ujung penutup dan dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Setelah bubar, ada yang langsung berjalan pulang sambil bercakap-cakap, tetapi ada juga yang masih tinggal dan menggerombol dengan perkumpulannya untuk melanjutkan obrolan. Nah dari percakapan itulah mulai terkuak rahasia-rahasia kecil kehidupan mereka: ada yang membanggakan dan mensyukuri kasih sayang yang tetap mereka terima dari anak cucunya di hari tua mereka, ada juga yang berkeluh kesah tentang perlakuan anak-anak dan menantu-menantu mereka di sisa-sisa umurnya.

Yah itulah hidup yang tak pernah lepas dari ucapan syukur atau sekedar keluhan. Meskipun demikian, kita patut mengacungkan jempol untuk kegigihan mereka menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.