Antara Paranoid dan Apatisme

Sikap paranoid dan apatis, mana yang lebih baik? Pilih peduli atau cuek?

Saya ingat sekali dulu hidup di Jakarta daerah kota, menonton adegan jambret dan copet itu sudah seperti menonton adegan sinetron di tv: sudah basi dan bosan, tetapi tidak apalah untuk menghabisi waktu.  Saya sendiri sering berperan sebagai korbannya, dan baik saya maupun rakyat sekitar, sepertinya sudah sama-sama terbiasa. Mungkin pihak kriminalnya juga sudah tidak perlu merasa tertekan atau tegang. Toh nanti paling digebuki polisi sekitar tetapi ya sudah begitu saja. Dari pada tidak makan?

Apakah sikap apatisme ini salah dan harusnya kita lebih peduli? Di Amerika, negara yang peduli (atau terpaksa peduli?), juga tidak menjanjikan solusi. Mungkin untuk tukang ngebut di jalan,  tukang rampok di pompa bensin maka terjamin akan divonis seberat-beratnya. Kalau bisa sampai meninggal seperti para imigran gelap yang dipenjara1. Tetapi toh penjahat ekonomi, yang menjerumuskan puluhan juta rakyat Amerika ke liang kubur, malah menerima aneka bonus jutaan dollar AS di bulan ini2. Ternyata ada waktu-waktunya juga di mana Amerika tidak merasa perlu peduli.

Kepedulian itu juga sering menjadi paranoid belaka. Lagi kita ambil contoh Amerika yang baru-baru ini heboh lantaran salah satu pesawatnya hampir meledak di malam Natal. Ulah satu pelajar Nigeria sinting membuat badan keamanan amerika menjadi bahan tertawaan dan dipermalukan3. Amerika memilih untuk LEBIH peduli lagi dengan menutup satu seksi utama airport di Newark sehingga ribuan penumpang terdampar selama berjam-jam, semua atas ulah satu orang Cina yang terlalu bebal dan romantis4.

Mungkin kalau ingin peduli, perlu memiliki persepsi yang benar dan pas. Sikap perduli dengan dasar yang ngawur, dengan sendirinya melahirkan tiranisme, premanisme, dan terorisme. Saya sendiri baru tahu kalau Malaysia menekankan kata “Allah” sebagai eksklusif properti jemaat Islam5. Ternyata bukan batik dan tari-tarian Indonesia saja yang mereka inginkan menjadi milik sendiri.

Memang ternyata sikap peduli akan hal yang salah lebih dianuti dan diminati dari pada hal-hal yang harusnya sangat dipedulikan. Global warming dan human trading misalnya. “Ah tapi itu kan bukan salah saya!” begitu kata orang-orang Indonesia….

Indonesia memilih untuk tidak perduli. Sebab ternyata kepedulian terlalu banyak makan waktu, uang dan energi; namun tidak menjamin solusi. Sikap apatis, lebih ekonomis praktis dan terbukti jitu-jitu saja. Negara menginjak-nginjak hak asasi, tidak apa. Negara bangkrut, biar saja. Sengsara itu sudah biasa. Mungkin kesannya agak-agak fatalisme dan pasrah. Namun pikir punya pikir, kurang lebih 50 tahun hidup seperti itu dan berhasil. Sedangkan di saat mulai sok ambil peduli seperti sekarang, contoh KPK, malah menjadi bahan materi skandal media saja6.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.


1 http://www.nytimes.com/2009/01/28/us/28detain.html
2 http://politicalticker.blogs.cnn.com/2010/01/10/romer-prospect-of-big-banker-bonuses-offends-me/
3 http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/article6979089.ece
4 http://blog.nj.com/njv_mark_diionno/2010/01/haisong_jiang_newark_airport_s.html
5 http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/08/malaysian-church-firebombed-amid-039allah039-dispute.html
6 http://thejakartaglobe.com/home/i-will-be-the-first-person-to-dismiss-the-kpk-antasari-says-in-video/341000