Diskusi dibawah ini terjadi di mailing list anggota Keongmas menanggapi artikel dari The New York Times yang berjudul “As English Spreads, Indonesians Fear for Their Language”. Keongmas sendiri adalah ibu dari project Waraskita. Artikel ini berpendapat bahwa bahasa Indonesia berada dalam bahaya dengan semakin banyaknya jumlah keluarga dari ekonomi menengah keatas yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang fokus kepada bahasa Inggris dan sedikit waktu untuk Bahasa Indonesia. Diskusi ini akan dibagi dalam 2 bagian, dengan hasil diskusi di bagian kedua.
(Nama anggota ditulis dengan inisial)
IS: Aku tidak mengerti, kenapa Indonesia tidak bisa seperti India, dimana sebagian besar masyarakatnya bisa menggunakan bahasa Inggris dengan lancar. Kenapa kita harus memilih salah satu dari kedua bahasa ini.
AN: Saya rasa sedikit berlebihan kalau bilang bahasa Indonesia dalam ancaman. Lebih dari 70% populasi Indonesia masih belum menerima edukasi yang cukup, apalagi pendidikan bahasa Inggris. Tapi saya setuju dengan IS, bilingual atau multilingual harus menjadi cara untuk menerima globalisasi, yang tak dapat dihindari.
EJ: Mungkin berlebihan, tapi bukankah lumayan sedih kalau ada anak yang lahir dan besar di Indonesia tetapi tidak bisa bicara Indonesia dengan lancar? Kita bisa lihat contohnya Miss Indonesia 2009, seorang warga Indonesia tetapi membutuhkan translator untuk Miss Indonesia?
Aku rasa orang tua memutuskan untuk mengirimkan anaknya sekolah di sekolah swasta yang menggunakan bahasa Inggris karena mereka tahu bagaimana bahasa Inggris itu penting dan sayangnya sekolah negeri tidak cukup bagus memberikan mata pelajaran bahasa Inggris. Tetapi untuk menolak atau cuek untuk mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama juga tidak dapat diterima. Pemerintah harus menerima kedua bahasa sebagai bagian dari kurikulum, tetapi jangan lupa kalau bahasa Indonesia adalah bagian penting budaya Indonesia yang menyatukan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Setiap warga negara Indonesia harus menyadari hal ini.
HC: Beberapa tahun dari sekarang mungkin bahasa Mandarin. Gimana menurut anda?
RO: Aku rasa pemerintah sudah melakukan pendekatan yang tepat dengan meregulasi pendidikan di Indonesia, bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan Inggris sebagai bahasa kedua. Dalam skala lebih besar, hal ini tidak akan menjadi masalah karena hanya sebagian kecil dari populasi Indonesia yang dapat membiayai sekolah swasta. Memang memalukan jika seorang warga Indonesia, tinggal di Indonesia tidak dapat berbicara bahasa Indonesia. Jika mampu berbicara bahasa Inggris adalah hal yang baik, maka kelihatannya terlalu banyak hal yang baik juga tidak bagus.
SY: Untuk aku, aku setuju dengan kata “terancam” karena Bahasa Indonesia sudah tidak diihat lagi sebagai identitas dengan bangga. Generasi muda lebih memilih bahasa Inggris untuk lebih kelihatan keren. Contohnya, status di Facebook, menulis kartu ucapan, tweeting, dll. Bahasa Indonesia mungkin dilihat sebagai hal yang tak terhindarkan dari budaya, tetapi anggota dari budaya itu sendiri mencoba untuk pindah ke hal yang lain. Fakta bahwa sebagian besar warga Indonesia tidak berbicara Bahasa Inggris dengan baik tidak berarti bahwa mereka bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia.
Coba kalau kita lihat status di Facebook dengan bahasa Inggris yang kacau, kita akan berpikir “ngapain mereka make dari pertama”. Sebagian besar orang Indonesia yang punya Facebook, saya yakin, tidak punya teman yang hanya bisa berbicara Inggris. Kenapa mereka menggunakan Inggris? Sekali lagi, karena faktor “keren” “cool”. Jadi bahasa dari kehilangan identitas budaya: seorang yang lancar berbahasa Indonesia namun bangga menggunakan Inggris kacau. Ini hanya salah satu dari banyak hal yang aku tidak mengerti dari dunia ini.
FS: Menurut aku, bahasa Indonesia tidak terancam sih, secara masyarakat keseluruhan. Tapi antara masyarakat menengah ke atas, kemungkinan besar akan punah, terutama kalau orang tuanya tidak peduli.
IS: Saya setuju sama FS, soalnya kebanyak orang menengah keatas yang aku tahu anak-anaknya sudah sekolah di NJIS, Gandhi, dll. Jujur saja kalau aku di Indonesia, aku mungkin melakukan hal yang sama, tapi kalau dirumah tetep pakai bahasa Indonesia dong.
MJ: Menurut aku sih rasanya karena krisis identitas dan keamanan. Paling gregetan kalau ada orang yang nilai bahasa Indonesianya yang jelek di sekolah, lalu menyalahkan sekolah yang ngajarinnya tidak becus. Tetapi bangga kalau bahasa Inggrisnya bagus karena les di EF.
Tapi, secara garis besar, memang pertanggung jawaban paling besar itu kepada Globalisasi. Banyak perusahaan internasional masuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia yang kapitalisme mengijinkan mereka masuk supaya bisa meningkatkan perekonomian di Indonesia. Ditambah sarana internet, yang kebanyakan informasi yang tersedia adalah dalam bahasa inggris.
EJ: Jadi, mungkin sebenarnya bisa digali lebih dalam lagi, kalau bahaya yang ditulis di artikel ini akan lebih pengaruh di kalangan atas atau masyarakat Indonesia pada umumnya?
Kalangan atas menyadari pentingnya Bahasa Inggris lalu berusaha dengan cara apa pun biar anaknya pintar Inggris tapi lupa apa artinya bahasa Indonesia. Kalangan bawah, bisa dapat pendidikan sedikit tentang Inggris saja sudah senang. Bahasa Indonesia mungkin mereka gunakan tiap hari, tapi mungkin sudah campur dengan bahasa gaul. Yang gawat yang ditengah-tengah, Inggris pas-pasan,tapi ngotot pake Inggris, dengan bahasa Indonesia yang mungkin jadi “males” pake.
Mungkin saatnya berpikir, gimana caranya supaya Bahasa Indonesia itu menjadi bahasa yang “asik” dan menaikkan lagi kesadaran masyarakat pentingnya Bahasa Indonesia dalam menjaga kesatuan negara kita.
HC: Kita di sini inggris2an kalau sama bule juga suka gagap.. Tapi kita menginggris karena sudah menjadi situasi. Kan tidak mungkin pakai bahasa Indonesia Indonesia atau Jawa pas ujian atau beli McDonald
Coba nawar bajaj ato hp di pasar grosir pake inggris. Kan tidak mungkin.
Coba nawar pisang di puncak pake betawi. Pasti diketok harganya.
Coba pake mandarin nawar playstation di singapura. Dikibulin langsung ama yang jual. Harus dialek hokkian.
Kita menyesuaikan terhadap situasi untuk mencapai hasil terbaik yang kita inginkan. Lebih dari itu hanyalah “barang mewah”
SY: HC secara jelas melihat dari arah fungsionalitas! Nah “barang mewah” itulah yang terjadi di Indonesia. Anak muda mau yang update. “Barang mewah” bukan lagi Bahasa Indonesia, tetapi bahasa orang lain. Sekarang kita tuduh-tuduh orang Malaysia curi budaya kita, lah kita sendiri malu atau malas sama Bahasa Indonesia, pake nginggris segala.
(Bagian kedua diskusi dapat dilihat di-sini)
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.



Tidak muat ternyata comment saya, bersambung di sini…
============================
Di sisi lain saya memang seringkali prihatin dengan orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya di sekolah international, bahkan juga dalam keseharian mengajak anaknya berbicara bahasa inggris. Padahal saya mendengarkan orang tuanya berbicara bahasa inggris pun tidak dengan baik dan benar. Di sini saya merasa lucu.
Yang masih bisa diandalkan untuk melestarikan bahasa indonesia adalah program2 berita TV yang masih menggunakan bahasa indonesia yang baku dan baik dan benar. Terjemahan film bioskop, dan juga pelajaran yang kita pelajari di sekolah. Semoga bahasa indonesia kelak bisa berkibar seperti bahasa inggris, mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin.
Bukan hanya terancam oleh bahasa inggris sebetulnya, namun terancam juga oleh bahasa gaul seperti :
\”Eh gy ap lw? G mw k skul, tar g kbrn lw lg oc?\”
seharusnya :
\”Hai kamu sedang apa? Aku hendak pergi ke sekolah, nanti aku kabari kamu lebih lanjut…\”
Jadi sebetulnya ada beberapa bahasa yang beredar, dan bahasa indonesia sendiri pun tidak baku digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi jangan heran apabila seorang bule susah payah belajar bahasa indonesia, namun dia masih kesulitan untuk bergaul dengan kaum remaja, karena banyak beredar bahasa gaul (slank).
Dan yang menarik adalah melihat bagaimana para profesional dalam dunia teknologi, seperti internet dan gadget, enggan menggunakan bahasa indonesia. Seperti meskipun diciptakan firefox dalam bahasa indonesia, saya pribadi merasa aneh super luar biasa melihat istilah-istilah seperti \”unduh, beranda, dll\”
Namun yang luar biasa adalah banyak orang indonesia yang meskipun menggunakan banyak jenis bahasa, mereka tetap bisa menempatkan diri pada posisi dan situasi mana mereka berbicara.
Misalkan saya berbicara dengan anak kecil, saya akan bertanya \”apa kabar kamu?\”
Namun apabila saya bertemu dengan client saya, saya akan bertanya \”Apa kabar anda?\”
Dengan teman saya, saya akan bertanya \”Pa kabar lo?\”
Mungkin ini bisa menjadi satu budaya bahasa baru yang bisa dilestarikan. Entah bagaimana dengan bahasa di belahan dunia lain, apakah sekaya indonesia?
========================
Di sisi lain saya memang seringkali prihatin dengan orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya di sekolah international, bahkan juga dalam keseharian mengajak anaknya berbicara bahasa inggris. Padahal saya mendengarkan orang tuanya berbicara bahasa inggris pun tidak dengan baik dan benar. Di sini saya merasa lucu.
Yang masih bisa diandalkan untuk melestarikan bahasa indonesia adalah program2 berita TV yang masih menggunakan bahasa indonesia yang baku dan baik dan benar. Terjemahan film bioskop, dan juga pelajaran yang kita pelajari di sekolah. Semoga bahasa indonesia kelak bisa berkibar seperti bahasa inggris, mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin.