
Diskusi dibawah ini adalah bagian kedua dari diskusi antara anggota Keongmas menanggapi artikel The New York Times yang berpendapat bahwa bahasa Indonesia berada dalam bahaya. Diskusi bagian pertama dapat dilihat di sini.
IL: Aku sepertinya susah mempercayai bahwa masalah ini nyata. Pasti populasi pada umumnya lebih memilih bisa handal bercakap menggunakan Bahasa Inggris kebanding Bahasa Indonesia. Kenapa tidak? Toh memang lebih praktis buat masa depan dan dipakai waktu kerja. Tapi rasanya meragukan untuk menyatakan bahwa ada sebagian masyarakat yang tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali.
Apakah dari kita ada yang tahu secara pribadi orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia? Artikel ini tidak menyebutkan satu pun data statistik. Semua klaim yang diajukan bersifat anekdot. Bukan berarti otomatis artikelnya salah, tetapi kita harus berpikir mungkin penulis hanya menggambarkan persepsi dia pribadi.
Kemungkinan besar, populasi yang digambarkan di artikel ini hanya kasus ekstrim. Kecuali populasi menengah ke atas Indonesia tiba-tiba melejit secara eksponensial, saya rasa kita tidak harus khawatir tentang masa depan Bahasa Indonesia. Jika keluarga melihat anaknya akan tinggal di Indonesia, orang tua pasti memastikan agar anaknya dapat hidup di Indonesia. Jika rencana mereka untuk keluar negeri, maka mereka juga tidak memupukkan Bahasa Indonesia ke anak. Semua menang.
Kalau yang tentang Miss Indonesia, kita mesti bertanya: Apakah dia bisa menang Miss Indonesia walau dia tidak bisa Bahasa Inggris? Ataukah dia menang justru karena dia tidak bisa Bahasa Inggris? Ini fenomena yang MJ maksud, dan sifat seperti ini yang lebih merusak perkembangan sastra Indonesia.
JT: Orang tua yang mengajarkan anaknya Bahasa Inggris, pasti tinggal dikota besar (Jakarta, Surabaya, dll). Andai mereka pernah ke daerah, mereka pasti mensyukuri adanya bahasa Indonesia. Apa mungkin kita perlu jadi se-ekstrim orang yang berdarah Meksiko di Amerika, yang benci benar dengan Spanglish (Bahasa Inggris dengan aksen Spanish)? Kalau ada orang yang campur Inggris dengan Spanish dalam satu kalimat, orang itu langsung diledekin habis-habisan.
JS: Dari segi kenegaraan, fenomena ini bisa dilihat sebagai ancaman (walau masih dalam tahap sangat awal) karena salah satu pilar yang menopang persatuan Indonesia adalah Bahasa Indonesia. Kalau trend ini semakin meluas, maka berkurang satu hal lagi hal yang sama diantara penduduk Indonesia, dan siapa tahu ini akan menjadi satu daya pendorong semakin terpecahnya Indonesia?
Di sisi lain, Amerika sendiri sebetulnya tidak mempunyai bahasa resmi, tapi warganya selama ini masih cukup bersatu karena mereka mempunyai pengikat kuat di hal-hal lain, misalnya kesamaan latar belakang imigran, pegangan yang kuat terhadap prinsip-prinsip di Pernyataan Kemerdekaan Amerika Serikat.
Anak saya sendiri yang belum umur 2 tahun berbicara dengan menggunakan campuran Indonesia dan Inggris dan sering kali menggunakan kedua bahasa dalam satu kalimat. Kami pikir praktisnya saja, yaitu bahwa bahasa itu pada akhirnya hanya suatu alat untuk menyampaikan pesan dari kepala kita kepada pendengar.
Jadi setuju sama MJ mengenai sebab fenomena ini terjadi: 1)karena krisis identitas/ketidakamanan, sebagai tambahan karena 2)kurangnya kecintaan kepada Bahasa Indonesia, 3)begitu semakin kuatnya pengaruh kultur barat yang memakai medium Inggris dalam penyampaian apa yang menjadi tren saat ini (Kultur barat di dekade terakhir semakin dikenal oleh rakyat Indonesia dikarenakan pengaruh film, musik, dan mudahnya akses Internet).
CS: Jadi menurut opini-opini di atas, saya coba rumuskan 1 pertanyaan mendasar:
“Bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran (dan fungsional) atau bahasa sebagai budaya dan bentuk nasionalisme?”
Ketika bahasa dianggap sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran, berarti kita mempersilahkan adanya Indo-lish (atau Engdonesia). Itu karena kita mau bahasa itu fungsional dan bisa diadaptasi sesuai situasi, tetapi kita masih memaki-maki orang yang tidak bisa cara pakainya atau menggunakan Bahasa Inggris dengan logat Indonesia. Jelas saja kita geli melihatnya karena kita pernah tinggal di Amerika. Toh orang India juga berbicara Bahasa Inggris yang berlogat kental dan mempunyai struktur kalimat yang salah? Apakah mereka juga punya masalah seperti kita?
Tapi apa maksud presiden kita bilang, “Kita memakai bahasa yang satu, Bahasa Indonesia” sebagai bahasa persatuan. Apa itu artinya “Bahasa adalah budaya” yang sering kita dengar. Bahasa mendefinisikan budaya, bahasa mendefinisikan bangsa. Apakah ini masih bisa diaminkan di jaman globalisasi ini? Apakah ketika kita campur Indonesia dan Inggris, itu berarti kita tidak bangga memakai bahasa sendiri dan oleh karena itu kurang nasionalis? Apakah kalau setiap hari kita memakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, itu artinya nasionalis?
Opini-opini kita bertentangan kan?
Jika kita tidak menerima bahasa inggris, kita tidak maju-maju. Kalau menerima Bahasa Inggris, kemungkinan yang REALISTIS adalah terjadinya logat-logat tersendiri, yang terjadi seperti Singlish, Maylish, atau Indialish. Lalu yang realistis lagi terjadinya penggunaan Bahasa Inggris yang dikutip di media-media publik. Kita malah tidak suka saat itu terjadi. Kalau logat Inggrisnya sudah bagus, cara pakainya benar.. dibilang budaya kita luntur.
Jadi, apa yang harus kita pegang? Saya tidak mau menjawab, “Ya, harus seimbang diantara dua bahasa.”
AN: Mengenai kelas atas di Indonesia yang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah international, aku rasa itu sebetulnya cara mereka mempersiapkan anak-anak mereka untuk globalisasi. Memang ironis karena banyak orang-orang yang tidak memikirkan bahasa sebagai warisan budaya dan oleh karenanya ada krisis identitas, tetapi ini juga dikarenakan ketakutan kalah bersaing dan ini pastinya dialami semua negara dimana Inggris bukan menjadi salah satu bahasa utama negara itu. Saat ini pun penggunaan Inggris sebagai bahasa internasional mungkin akan mulai berkurang dengan menguatnya Cina, setidaknya dikawasan Asia.
Mengenai pengalaman pribadi, sejak hampir 2 tahun pulang ke Indonesia, aku masih beradaptasi untuk berbicara Indonesia dengan benar. Karena saat di Amerika aku juga banyak bicara Indonesia dengan teman-teman, tidak ada masalah kalau berbicara secara informal. Yang jadi masalah itu waktu harus bicara secara formal seperti di kantor atau saat pidato di depan umum. Sepertinya banyak kata-kata yang jauh lebih menonjol dan berarti dalam Bahasa Inggris dibanding Bahasa Indonesia. Hal lain yang ironis adalah kadang aku malah tahu kata Inggrisnya dan tidak tahu apa versi Bahasa Indonesianya, bahkan perlu ke kamus.net.
Jadi apakah itu berarti nasionalisme seseorang diukur dari kemampuannya berbahasa ibu? Sepertinya relatif, tergantung apa alasannya. Aku rasa setidaknya temen-teman Keongmas tidak ada yang menggunakannya supaya kelihatan lebih keren.
Menurutku, bahasa itu berfungsi satu yaitu sebagai alat komunikasi dan justru karena fungsi inilah bahasa bisa menjadi alat persatuan. Jangan harap bersatu kalau mengerti saja tidak.
Beberapa hal hasil dari diskusi ini adalah:
- Ada kecenderungan dimana seberapa bagian masyarakat mulai lebih memilih untuk belajar bahasa Inggris dikarenakan pentingnya untuk menghadapi kompetisi masa depan, khususnya globalisasi
- Di bagian masyarakat tertentu yang lain, lebih memilih Bahasa Inggris karena dianggap keren, “cool,” yang diakibatkan oleh arus informasi dan teknologi yang menggunakan bahasa Inggris sebagai media
- Bahasa Inggris harus diterima dalam dunia pendidikan Indonesia, untuk menyiapkan generasi Indonesia yang siap ber-kompetisi dalam ajang International
- Namun, Bahasa Indonesia harus tetap menjadi bahasa utama dan dipertahankan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai bagian integral dari budaya, identitas dan persatuan bangsa Indonesia
Mari kita teruskan diskusi ini…
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.
=


