Illinois Cup, Ajang Anak Bangsa

Semenjak saya tinggal di Amerika karena mendapat beasiswa, saya jadi sedikit mencicipi “rasa” yang lain dalam hidup tidak pernah saya bayangkan. “Rasa” yang satu ini sulit sekali digambarkan apalagi dipecah-pecah menjadi rasa-rasa dasar seperti asam, manis, pahit. Jika “rasa” yang saya alami ini digambarkan sebagai warna, saya juga bingung sendiri jika harus memecah-mecahnya menjadi warna-warna dasar seperti merah, kuning atau biru, apalagi jika disuruh menjelaskan kadar dan komposisinya secara logis, aduh bisa pecah kepala ini. Mungkin jika saya tidak pernah meninggalkan Indonesia, seumur-umur saya tidak akan pernah mencicipi “rasa” baru ini. Nah, apa sich “rasa” yang disebut-sebut itu dari tadi? Itu adalah sedikit “Taste” menjadi kaum minoritas.

Jika ditelaah lagi, saya ini adalah anak yang dilahirkan dari keluarga Jawa yang lahir di kampung di pulau Jawa dan seumur hidup di kelilingi orang Jawa. Secara perawakan, kulit saya sawo matang dengan spesifikasi tipikal orang yang terlalu banyak terekspos sinar matahari langsung, tinggi saya ada pada kisaran rata-rata orang Indonesia yaitu antara 160-170 dengan rambut berwarna hitam dan mata berwarna coklat tua. Dengan latar belakang, demografi dan perawakan seperti yang saya sebut diatas maka seumur hidup saya termasuk dalam golongan mayoritas di Negara saya tercinta itu. Setelah kurang lebih 10 bulan tinggal di Amerika dan mencicipi menjadi golongan minoritas saya jadi menyadari banyak hal. Dulu sewaktu saya tinggal di Indonesia dengan mudahnya saya terjebak dalam pengkotak-kotakan berdasar ras. Dulu gampang sekali saya terkotak-kotak dalam lingkup pergaulan sempit yang dibatasi kepongahan sebagai orang Jawa, Sunda, Batak, Melayu atau Cina. Saya sich cuek-cuek saja dulu karena saya adalah orang dari ras Jawa yang tinggal di pulau Jawa dimana saya termasuk dalam gerombolan besar alias mayoritas.

Nah, di Amerika ini, boro-boro mau ketemu orang Jawa, bahkan saya sering dikira orang Filipina. Pengalaman itu memberi pelajaran buat saya untuk melihat Indonesia sebagai sebuah kesatuan. Tidak perlu lagi mengotak-ngotakan diri dalam wilayah kesukuan yang sempit. Sekarang tidak peduli lagi melihat orang sebagai orang Padang, Aceh, Betawi, Manado, Sasak atau Bali. Pokoknya kalau bisa bertemu orang yang bisa berbahasa Indonesia rasanya sudah senang sekali. Perasaan ingin berkumpul, berbagi dan saling mengerti inilah yang mencetuskan diadakannya Illinois Cup.

Dalam acara ini pihak panitia, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) Chicago dan Urbana-Champaign, mengundang seluruh Permias se-Midwest untuk berkumpul bersama guna saling mengenal. Ini adalah kegiatan satu hari penuh dari pagi sampai malam dimana pada pagi hari diisi pertandingan-pertandingan olah raga popular tanah air seperti Futsal, Bulutangkis dan Basket. Pada malamnya diadakan acara unjuk kebolehan dalam bidang seni yang disebut Indonesia Night. Sebagai peserta sich saya senang sekali dengan adanya acara ini. Senang rasanya ada di sekeliling teman-teman sesama orang Indonesia yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Jempol dah buat panitia yang bisa merangkai acara semeriah dan seramai ini!

Dalam pandangan saya pribadi, kalau sebelum saya datang ke Amerika, mungkin saya akan berpendapat ini adalah acaranya orang-orang Cina karena memang mayoritas partisipannya adalah saudara–saudara kita warga Indonesia yang keturunan Cina. Hal ini wajar, mengingat sebagaian pelajar Indonesia yang datang ke Amerika berasal dari keturunan Cina. Tapi tunggu dulu, sekarang setelah merasakan menjadi minoritas saya punya pandangan lain. Mereka memang mayoritas di sini tapi mereka tidak membedakan saya dengan ras mereka. Saya diperlakukan sama kok dengan peserta yang lain, jadi kenapa juga saya harus memandang mereka berdasarkan ras? Saya dan mereka sama-sama orang Indonesia dan kita memandang satu sama lain sebagai sesama orang Indonesia di tanah rantau. Dari situlah saya menarik pelajaran moral untuk saling menghormati dan menghargai sesama anak bangsa! Kelak jika saya pulang ke Indonesia, saya akan menggunakan pengalaman beharga ini untuk berlaku lebih baik kepada golongan minoritas. Saya terus berusaha untuk tidak terjebak dalam kepongahan semu sebagai golongan mayoritas lagi.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.