Mengantri Kebutuhan Hidup atau Gaya Hidup?

sale crocs

Sebuah email dari seorang teman mendarat di milis KeongMas dengan subject “Crocs di Jakarta… ckk ckk” – dan mendapat sejumlah respons yang menarik: ada yang menyinggung kesenjangan sosial hingga masalah pembantu.  Artikel ini membahas soal panjangnya antrian di Senayan City untuk membeli sendal Crocs – brand asal Amerika Serikat tapi diproduksi di negara-negara lain termasuk Cina[1].  Begitu panjangnya antrian pembeli sehingga jalurnya sampai melebihi satu lantai.  Menurut beritanya 80.000 sendal berhasil dijual dengan harga Rp 135 ribu sampai Rp 420 ribu[2].  Kalau dihitung, berarti hari itu transaksi sekitar Rp 10.8 milyar sampai Rp 33.6 milyar telah terjadi di Senayan City.

Dari jauh kita bisa menduga akar masalah fenomena ini.  Haus trend/novelty, terutama yang berasal dari luar negeri, gengsi dan budaya ikut-ikutan sudah mendarah daging untuk masyarakat kita.  Dan konsumer-konsumer ini berani membayar demi memuaskan kebutuhan gaya hidup – dengan sadar/tidak sadar sukarela melepaskan potensial saving untuk jangka panjang.

Mungkin kita sudah saatnya mempertanyakan pola belanja kita masing-masing.  Ada yang berpendapat bahwa panjangnya antrian Crocs di Senayan City menjadi salah satu bukti bahwa keadaan ekonomi di Indonesia sudah membaik dan menggambarkan business landscape yang sangat lukratif untuk investor.  Memang peristiwa ini bisa dilihat dari segi positif seperti demikian, namun apakah budaya belanja seperti ini masih positif jika dilihat jangka panjangnya untuk keadaan masyarakat kita – yang mayoritas menengah ke bawah?

Tentu saja harga sendal Crocs itu tidak menjadi masalah untuk mereka yang berpenghasilan tinggi.  Tidak disangka lagi bahwa tingkat konsumerisme masyarakat Indonesia sudah meningkat pesat, dimana masyarakat sudah mulai fokus untuk membeli barang-barang yang mungkin lebih kepada gaya hidup daripada kebutuhan. Namun bagaimana dengan mereka yang berpendapatan pas-pasan dan hidup per bulannya hanya makan gaji saja? Yang menjadi bahaya adalah sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat kurang pendidikan atau perhatian kepada long-term financial planning. Masyarakat Indonesia, pada umumnya, belum terlatih untuk berhemat duit untuk keperluan 10-20 tahun kedepan. Semakin tingginya biaya pendidikan di Indonesia, biaya kesehatan yang mahal, hendaknya menjadi sesuatu yang perlu menjadi perhatian dan tentu uangnya harus mulai dihemat dari dini.

Besarnya berita ini harus menjadi alarm bagi kita.  Budaya membeli gaya hidup ini sangat berbahaya untuk kelangsungan masyarakat kita.  Di negeri Paman Sam, mengutang dengan credit card sudah menjadi hal biasa – namun jika hutang dan kemampuan membayar tidak memadai, pemerintah AS bisa melindungi individu yang melarat dengan bankruptcy law.  Di Indonesia, tidak ada semacam jaminan atau aturan yang jelas dan bagus dimana mampu melindungi individu jika mereka jatuh bangkrut. Yang banyak terjadi, individu tersebut mulai minjam duit disana-sini, yang justru terkadang bisa membuat “lobang” lebih dalam.

Artikel ini tidak ingin memberi pandangan bahwa gaya hidup itu tidak penting. Tetapi hendaknya setiap individu mempunyai proses yang rasional dalam mengambil keputusan sebelum mengeluarkan uang. Dalam proses itu, bisa membandingkan apakah barang yang akan dibeli, berapa harganya, bagaimana dengan tingkat pemasukan saya, apa pengeluaran penting yang harus saya lakukan, dan apa masa depan yang ingin kita punyai. Gaya hidup pada umumnya hanyalah kebutuhan jangka pendek, sedangkan kebutuhan hidup adalah kebutuhan jangka pendek dan biasanya bersifat kebutuhan pokok yang akan mempengaruhi masa depan.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.

Referensi: