
Mungkin potongan dari judul di atas cukup familiar di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia, khususnya mereka yang terjun dalam dunia tulis-menulis. Ya, “Pelacuran Intelektual” merupakan salah satu artikel tulisan dari alm. Soe Hok Gie (1942-1969), alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Beliau merupakan salah satu alumni almamater saya yang saya kagumi, terutama dalam bidang tulis-menulis dan konsepsinya mengenai nasionalisme. Meninggal di usia yang sangat muda (27 tahun), beliau dapat memberikan pengaruh yang besar pada generasi muda Indonesia dengan tulisan-tulisannya yang sangat menggugah pikiran masyarakat untuk selalu berpikir kritis, tidak terkotak-kotak oleh tirani pemerintahan ataupun pembodohan dari kaum penjajah, baik dari dalam maupun luar negeri. Tulisannya yang kritis dan lugas selalu dengan lengkap menelanjangi kecacatan negara dengan kritik yang ia lontarkan kepada pemerintahan di zamannya. Artikel “Pelacuran Intelektual” tersebut merupakan salah satu karya beliau yang paling populer dan kritis dalam menyikapi nasionalisme. Diterbitkan di harian Sinar Harapan pada 21 April 1969, berikut adalah kutipan dari artikel tersebut:
Ketika Rektor UI, Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro diangkat menjadi Menteri Pertambangan, saya datang padanya. Saya tanyakan mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat yang korup dan sloganistis. Rektor menjawab bahwa hal-hal tadi juga disadarinya. “Tetapi kita punya dua pilihan jika kita melihat keburukan-keburukan yang terjadi di kalangan pemerintahan.Terjun ke dalam berusaha (dan belum tentu berhasil) memperbaikinya atau tinggal di luar sambil menantikan aparat tadi ambruk. Saya memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya.”
Kutipan dari artikel yang beliau tulis ini melukiskan bagaimana seorang intelektual harus rela “melacurkan” intelektualitasnya, atau dengan spesifik dapat dikatakan sebagai konsepsinya, untuk terjun ke dalam pemerintahan yang busuk dan memperbaiki zaman. Pilihan yang berat, memang. Namun Prof. Sumantri dengan tegas menyatakan keinginannya untuk mengubah negara dan menerima segala konsekuensi untuk terjun ke lapangan pemerintahan.
Pilihan yang diambil Prof. Sumantri sangatlah terpuji, dan hal inilah yang menggugah Soe Hok Gie, juga para pemuda-pemuda lainnya pada zaman itu, untuk ambil bagian dalam pemerintahan dalam rangka reformasi negara Indonesia, yang pada saat itu kondisinya berada pada titik nadir.
Namun, terjadi sebuah ironi pada zaman ini. Apabila saya menginterpretasikan istilah “Pelacuran Intelektual” tersebut dalam konteks lain yang negatif, adalah bahwa mayoritas kaum intelektual zaman sekarang tidak memiliki konsepsi. Mengatasnamakan nasionalisme, mereka “melacurkan” dirinya untuk sebuah eksistensi belaka, agar memiliki suara dalam pemerintahan. Membenarkan yang bukan konsepsi mereka, dan lebih parah lagi, membenarkan yang salah. Sebagai contoh, di kampus, mahasiswa membuat karya tulis yang berlatar belakang ekonomi bermazhab liberal, namun di koran, mereka menulis artikel dengan berlatar belakang koperasi ataupun kerakyatan. Tidak punya pendirian, takut ditolak, dan mental “asal bapak senang”. Itulah mentalitas intelektual zaman sekarang. Apakah hal seperti itu dapat dikatakan sebagai kaum intelektual? Apakah itu yang disebut nasionalisme? Saya rasa tidak.
Seorang intelektual tidak akan merelakan konsepsinya hanya untuk kepentingan eksistensi belaka. Seorang intelektual hanya akan mengorbankan konsepsinya apabila ada hal lain yang lebih penting yang harus diperjuangkan, seperti Prof. Sumantri yang memperjuangkan rasa nasionalismenya. Beliau siap dicerca dan dimaki oleh seluruh sivitas akademika UI karena mau bekerja dengan “bajingan-bajingan minyak” tersebut. Namun ada hal lain yang perlu diperjuangkan, dan beliau mengorbankan dirinya untuk membela hal tersebut. Itulah nasionalisme.
Pertanyaannya, dapatkah bangsa kita maju apabila kaum intelektual yang merupakan pilar pertahanan bangsa memiliki mental seorang calo modal asing? Tidak akan pernah. Jadi, kaum intelektual Indonesia, mari kita pikirkan hal ini. Janganlah kita melacurkan intelektualitas dan konsepsi kita untuk tujuan dan motivasi yang salah. Kaum intelektual adalah penyangga bangsa, dan sebuah penyangga tidak boleh bergeser dari tempat asalnya. Pikirkan yang terbaik untuk bangsa kita dan jangan pernah takluk terhadap iming-iming nama besar dan eksistensi, yang sudah merusak budaya bangsa kita sejak lama.
Daftar Pustaka:
Badil, Rudy, Bekti, Luki Sutrisno (2010), “Soe Hok-Gie …sekali lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya”, Jakarta: KPG


