Pemulung untuk PEMILU

Parji menyeka peluhnya yang bercucuran. Matahari begitu terik lalu dilongoknya karung tempat dia mengumpulkan pungutan plastik, kardus dan lain lain. “Ah, kenapa akhir akhir ini semakin sedikit aja hasilnya”, gumamnya. Meski hanya lulusan SD, Parji tahu bahwa orang harus mengurangi  pemakaian plastik yang 400 tahun kemudian baru bisa diurai. Hal ini sering disebut di acara TV. Orang-orang juga harus berhemat dengan pemakaian kertas untuk menjaga kelestarian pohon bahan kertas. Tapi sekali lagi, semua demi urusan perut. Meski tahu konsekuensi  buruknya, tetap saja Parji mengharapkan makin banyak orang yang membuang botol  plastik, kantong plastik, koran dan kertas.

“Par, Parni!” teriak Parji sembari membuka gubuk reotnya. Dibukanya pintu gubuk yang hanya diselot dengan potongan kawat. “Wah kemana nih Parni?…Mungkin dia pergi memulung lagi”. Meski tak terjawab panggilannya, Parji tahu bahwa istrinya, sebelum pergi, pasti telah menyediakan teh manis kesukaannya dan sedikit cemilan. Dihirupnya teh yang masih sedikit hangat dan dengan sigap, tangannya menyambar singkong goreng yang ada di piring. Sambil duduk menyelonjorkan kakinya yang pegal karena jalan sedari pagi, didengarnya suara TV tetangga sebelah yang hanya dibatasi triplek tipis. Acara TV yang didengarnya diselingi oleh iklan iklan pemililhan umum yang kian marak akhir-akhir ini. Sering didengarnya janji pengobatan gratis, ada yang berlagak dirinya seakan manusia super yang bisa memberikan segala kemakmuran, atau murah sandang pangan  begitu terpilih. Ada yang sok jadi miliuner yang  begitu terpilih, langsung bisa membukakan pabrik untuk membuka lowongan kerja. Ah, bukannya janji-janji itu sudah sering didengar Parji di tahun tahun yang lalu tetapi nyatanya, kok, hidupnya tetap saja susah…meski dia makin giat mencari kerja, tetap saja tidak ada sehingga akhirnya, demi tuntutan perut, terpaksa mengais ngais tempat sampah, alias jadi pemulung.

“Wah, kebetulan kamu ada Par”, kata Paimo, tetangganya sesama pemulung. Tanpa babibu, tangan Paimo ikut menyambar singkong rebus di meja. “Eh Par, besok di alun-alun ada kampanye partai Kuda Nil dan kabarnya ada bagi-bagi kaos, nasi bungkus, juga ada amplopnya. Lusa ada partai Pohon mau kampanye di lapangan bola, juga ada jatah makanan, kaos dan kopi. Lebih hebat lagi, nanti minggu ada partai Kadal, selain nasi bungkus dan kaos, juga ada amplopnya. Kamu mau ikut khan?”. “Gimana baik khan aku, spesial ngasih tahu sampeyan?”  lanjut Paimo lebih bersemangat lagi sambil menyambar pisang rebus yang tersisa.

Paimo memang hebat, sejak dulu dia tahu tempat dimana ada kampanye yang menurutnya empuk, tidak sia-sia bila datang, malah kadang ada tumpangan kendaraan pulang pergi juga!

“Wah, yo pasti ikut toh Mo!” sahut Parji sembari mengurut-urut kakinya yang masih terasa pegal. “Lah, dapat duit, makan, baju, sapa yang nolak! Moga-moga aja sering ya Mo, supaya kita bisa ganti-ganti baju tiap hari…dan makan gratis!”.

“Lah, nanti kalo pemilu kamu milih yang mana Par? Kalo aku rasanya pengin milih si Polan dari partai Serabutan sebab salah satu pengurusnya sekampung denganku!”

Parji hanya tersenyum. Bukankah pemilihan umum itu bebas dan rahasia? Kok Paimo malah gembar-gembor dengan calonnya. “Dasar Paimo, Paimo rasa wong sakndesonya masih begitu kental seperti teh kental buatan Parni yang sedang dinikmatinya sekarang. “Kalo aku mah udah punya calon sendiri”, jawab Parji, “Orangnya harus tak pernah korupsi seperti yang pada ditangkapi kapeka…tak sombong dan ogah ketemu dengan rakyat jelata yang telah memilihnya, bukan yang suka mengumbar janji di saat kampanye…tapi hasilnya kosong melompong seperti tempolong yang belon di isi air. Hanya…hanya…kok, sepertinya belum ada ya Mo?” Yah, Parji belum ketemu yang benar-benar sreg seperti yang diidam-idamkannya, padahal pemilu tidak lama lagi akan diadakan. “Wah, keburu tidak ya aku nemu pemimpin yang bakal bisa bantu merubah nasib kelak, gimana kalo mereka hanya seperti itu-itu lagi?”

Parji malas memikirkan lebih lanjut dan memulai memilah-milah hasil pungutannya hari ini. “Nanti saja aku coba cari tahu yang kira-kira baik”, lanjutnya. “Yang penting Paimo tidak tahu siapa yang bakal aku pilih kelak, tapi yang juga penting kalo ada pembagian rezeki begini, Paimo ngajak-ngajak”.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.