Saya sempat bertanya, sebetulnya perlu tidak kita mengagungkan pahlawan? Bukankah ini cuma menggendutkan sikap inferioritas diri? Mengapa kita tidak biarkan setiap orang memilih jalannya sendiri? Apalagi bila memperhitungkan kekecewaan yang mungkin muncul ketika si pahlawan tidak memenuhi harapan.
Mengapa tidak semua orang saja menjadi pahlawan? Ada sesuatu di dalam definisi kata “pahlawan” yang mengimplikasikan kelangkaan. Mungkin karena unsur-unsur dari definisi “pahlawan” seperti pengorbanan diri serta radikalitas secara intrinsik menyisihkan sebagian besar dari populasi manusia di dunia. Mungkin juga karena sering kali menjadi pahlawan baru terjadi posthumously, setelah si tokoh kehilangan nyawanya. Di sisi lain, ada juga keuntungan-keuntungan menjadi pahlawan. Aktualisasi diri, misalnya. Mungkin nama yang harum. Bisa juga pencapaian status dimana seseorang terangkat di atas kalangan orang biasa, kalangan non-pahlawan.
Seorang pahlawan sejati, menurut satu pandangan tertentu, haruslah bermotivasi murni. Lencana kepahlawanan, bila diberikan, haruslah terjadi tanpa diminta, bahkan tanpa diharapkan. Seorang pahlawan pastilah berprinsip dan tindakan-tindakannya lahir ketika prinsip tersebut bertabrakan dengan realita sekitar. Dalam hal ini, seorang pahlawan berjuang melawan elemen-elemen kultur yang menghanyutkan dan membuai. Secara sadar atau tidak sadar, seorang pahlawan dengan perbuatannya mengeksklamasikan apa yang salah didunia ini, dengan lebih gamblang dari perkataan termahir orator terhebat sekalipun.
Pandangan masyarakat yang secara mantap menyanjung kepahlawanan sebetulnya suatu titik terang di dunia yang suram ini. Pada akhirnya ini membuktikan bahwa jauh di dalam lubuk hati setiap manusia ada suara kecil yang meng-aminkan ketika seseorang sontak bangkit ketika ketidak-adilan terjadi di depan mata, ketika musibah menghantam, ketika suara-suara rintih meminta pertolongan, ketika sesuatu yang berharga dikorbankan untuk kepentingan pihak yang mengalami desakan kebutuhan. Apreprasi kepahlawanan sesungguhnya adalah bukti kuat bahwa keagungan itu tidak pernah lenyap dari hati manusia sekecilnya manapun, bukti yang selanjutnya mengacu kepada keagungan Ilahi San Pencipta sendiri.
Alangkah bagusnya bila rakyat suatu bangsa berebutan jadi pahlawan. Saling mendahulukan, saling membela, saling mengkonkritkan prinsip. Ketika tindakan-tindakan kepahlawanan kencang menjadi bagian urat nadi masyarakat sehari-hari!
Jadi melalui perenungan ini mulai tampilah sosok-sosok konkrit si pahlawan idola. Pahlawan adalah orang-orang kecil di status namun besar di hati di yang tertabur di sekeliling. Pahlawan adalah anda dan saya di masa depan, ketika melalui pilihan-pilihan dan komitmen kita telurkan hasil-hasil karya yang membuat dunia sedikit lebih baik. Pahlawan berarti ibu rumah tangga yang berkorban, pegawai negeri yang jujur, cendekiawan yang berhati, wiraswastawan yang peduli, pekerja yang gembira, pelajar yang ber-energi, pemimpin yang rendah hati, dan anggota masyarakat yang berkontribusi.
Kita sudah merdeka, tapi kita masih dipanggil untuk berjuang! Kobarkan semangat kepahlawanan, dan mari jadilah penggerak-penggerak massa di dalam lingkup kita tersendiri.
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.



“Pahlawan adalah orang-orang kecil di status namun besar di hati di yang tertabur di sekeliling. Pahlawan adalah anda dan saya di masa depan, ketika melalui pilihan-pilihan dan komitmen kita telurkan hasil-hasil karya yang membuat dunia sedikit lebih baik. Pahlawan berarti ibu rumah tangga yang berkorban, pegawai negeri yang jujur, cendekiawan yang berhati, wiraswastawan yang peduli, pekerja yang gembira, pelajar yang ber-energi, pemimpin yang rendah hati, dan anggota masyarakat yang berkontribusi”
like this! izin menyadur ya
mantab wis….mending di hapus saja kata pahlawan di ganti orang yang paling berperan getu heheheheh