
Pada tanggal 11 September 2010, warga Amerika mengenang tragedi yang terjadi 9 tahun yang silam, dimana sekelompok teroris membajak 3 pesawat komersial dan dengannya merubuhkan World Trade Center. Peristiwa ini memakan korban lebih dari 3,000 jiwa yang datang dari berbagai latar belakang agama, status ekonomi, dan ras. Selain teroris, tidak ada kelompok masyarakat manapun di dunia ini yang mendukung peristiwa ini.
Tahun ini, ada kontroversi mengenai rencana untuk membangun Mesjid dan Balai Masyarakat Islam di dekat Ground Zero, nama lain dari lokasi peristiwa 9/11. Pihak yang mendukung rencana tersebut beralasaan bahwa sudah merupakan hak konstitusi warga Amerika untuk bebas menganut dan membuka tempat ibadah dimana pun. Di sisi lain, pihak oposisi berpendapat bahwa hal ini sangat menyinggung perasaan keluarga korban dan akan membuat kesalah pahaman bahwa bangunan Mesjid seperti menunjukkan simbol kemenangan untuk kelompok teroris. Terlepas dari setuju atau tidaknya pembaca terhadap pembangunan Mesjid di dekat Ground Zero, hal ini memicu pembicaraan kontroversi di media Amerika.
Dengan arus Internet, opini anti-Islam pun dengan cepat tersebar. Di polling yang dilakukan oleh majalah TIME1, 28% berpendapat Muslim tidak layak untuk menjabat posisi Mahkamah Agung, 32% berpendapat Muslim tidak boleh menjadi calon Presiden, dan 46% percaya bahwa Islam mempunyai kemungkinan lebih besar dari agama lain untuk mendorong aksi kekerasan terhadap orang yang tak beragama. Yang paling kontroversi di antara semuanya adalah 24% responden percaya bahwa Presiden Barack Obama adalah seorang Muslim2. Ukuran sampel polling ini adalah 1002 orang dewasa, dilakukan pada tanggal 16-17 Agustus, dan mempunyai sekitar 3% margin kesalahan.
Satu polling yang cukup membuat saya terheran adalah dimana 62% responden mengatakan bahwa mereka secara pribadi tidak mengenal satu orang pun yang beragama Islam. Angka ini membuat saya teringat peribahasa “tak kenal maka tak sayang”, yang artinya jika kita tidak mengerti atau mengenal seseorang, maka kita tidak dapat menghargai orang itu. Hal inilah yang menurut saya, menjadi kelebihan masyarakat Indonesia. Bisa dibilang, sebagian besar dari masyarakat Indonesia, yang menganut agama apapun, paling tidak mengenal satu orang yang beragama lain. Walau 86% populasi Indonesia menganut agama Islam, kita semua tahu bahwa Indonesia mengakui agama lain.
Ketika mendengar opini beberapa orang yang memutar balikkan fakta agama Islam, saya pribadi walaupun tidak beragama Islam, merasa kecewa dan marah. Kecewa dan marah seperti ketika saya mendengar orang lain berkata buruk atau menghina teman atau saudara saya sendiri.
Melihat angka dan fakta ini, membuat saya tergerak untuk mengajak saudara warga Indonesia untuk menjadikan peristiwa ini kesempatan emas untuk menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang mampu menjadi agen perdamaian dan penengah di dalam konflik ini. Sejak tahun 1948, Indonesia menganut sistem politik bebas aktif, yang berarti bebas tidak memihak pihak manapun dan aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Prestasi Indonesia dalam bidang ini mulai dari salah satu pendiri Gerakan Non-Blok, anggota Organisasi Islamic Conference (OCI), sampai kepada anggota operasi perdamaian di Lebanon.
Kalau biasanya peran politik bebas aktif ini dibawakan oleh pemerintah, sejak melesatnya perkembangan teknologi, masyarakat Indonesia dapat langsung ikut berperan membawa perdamaian ini lewat berbagai media. Warga Indonesia dapat ikut berperan aktif dalam dialog internasional melalui berbagai forum. Kita pun bisa ikut menjelaskan bahwa agama Islam bukanlah agama teroris dan bagaimana Islam juga dapat menjadi bagian dari solusi. Ide lain yang layak dicoba adalah membuat wadah media seperti website ataupun blog dimana kita bisa saling berbagi video ataupun cerita dimana aksi bersama antar umat beragama dapat secara konkrit membantu masyarakat
Menjadi agen perdamaian juga berarti bisa berpikir rasional dan tidak mudah terpancing emosi. Akan sangat mudah untuk mencari segelintir orang yang ingin mengadu domba atau hanya ingin memecahkan keharmonisan masyarakat. Ketika saya menulis ini, ada peristiwa dimana Gereja HKBP di Bekasi diserang oleh sekelompok masyarakat ekstrimis Islam. Saya cukup senang bagaimana reaksi masyarakat umum, termasuk sebagian besar warga yang beragama Islam yang menentang aksi penyerangan ini melalui sarana media seperti Facebook, Twitter, E-mail, dll.
Mari kita mengambil satu langkah yang lebih dalam lagi seperti memulai aksi dialog di warga sekitar tempat kita tinggal. Isu-isu sosial seperti narkoba, kemiskinan, kebersihan lingkungan, dan korupsi itu bukan hanya isu milik penganut agama Islam, Kristen, Buddha, ataupun Hindu di Indonesia, tetapi semua warga yang menganggap Indonesia sebagai Tanah Air. Ada baiknya kita memfokuskan kepada hal-hal yang kita hadapi bersama daripada hal-hal dasar yang membedakan kita.
Idealnya, yang ingin kita capai adalah saling mengenal dan menghargai pendapat dan hak asasi satu sama lain walaupun kita berbeda ras, agama, maupun sosial status. Bukankah semboyan bangsa kita yang ditanamkan oleh pahlawan-pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan kita 65 tahun yang lalu, Bhinneka Tunggal Ika, berarti walau berbeda tetapi satu. Marilah kita praktekkan semboyan ini dalam kehidupan kita sehari-hari.
Referensi:
1http://www.time.com/time/nation/article/0,8599,2011799,00.html#ixzz0x4xQ0300
2http://www.dawn.com/wps/wcm/connect/dawn-content-library/dawn/news/world/06-more-americans-say-obama-is-muslim-rs-04
Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.


