Yesus, Muhammad, dan Perdamaian

19 Februari 1999 adalah hari yang masih membekas di ingatan saya; suatu hari yang mengingatkan saya akan sebuah peristiwa kelam di bumi Maluku.  Saat itu pecah kerusuhan berdarah di Ambon yang melibatkan dua kubu yang bertikai; pihak Muslim dan Nasrani setempat.  Kerusuhan ini berlarut-larut hingga paling tidak enam tahun sesudahnya dan memakan korban jiwa, materi hingga trauma yang berkepanjangan.  Terlepas dari unsur politis yang terkandung di dalamnya, saya menjadi bertanya-tanya mengapa kedua pihak yang bertikai dengan mudahnya mengatas namakan agama sebagai alasan untuk mengangkat senjata dan dengan tega meniadakan kehidupan yang notabene adalah pemberian Allah sendiri.  Bahkan fakta menunjukkan bahwa seringkali agama diangkat menjadi motif pertikaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini.  Peristiwa Situbondo, penutupan paksa, hingga pembakaran tempat-tempat ibadah rasanya menjadi bagian di dalam sejarah underground bangsa kita.

Seberbahaya itukah agama sehingga penganutnya menjadi fanatik, kebablasan dan menjadi brutal karenanya?  Apakah perdamaian hanyalah sekadar mimpi tak berujung dan slogan pemanis yang didengung-dengungkan untuk menjaga kerukunan agama bangsa kita?  Ataukah kita yang sebenarnya belum mengerti apa yang kita percayai?  Tulisan ini ditulis sebagai sebuah aspirasi independen dari seorang yang turut merasakan pahitnya pertikaian yang disebabkan oleh fanatisme dan ketidak mengertian umat beragama terhadap apa yang diimani oleh mereka.  Tulisan ini diharapkan menjadi sebuah bahan refleksi terhadap setiap kita umat beragama dalam menjalani kehidupan bersama di dalam perdamaian di tengah kemajemukan bangsa ini.

Yesus Kristus lahir di tengah pergulatan politik bangsa Yahudi yang pada saat itu berada di bawah tekanan penjajahan Romawi.  Oleh karena itu, masyarakat Yahudi menjadi salah kaprah terhadap pribadi Mesias (penyelamat) yang dinantikan dengan menganggap bahwa Mesias akan datang dan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi.  Dalam waktu yang relatif singkat, popularitas Yesus yang diharapkan sebagai figur pembebas meningkat begitu pesat sehingga banyak orang yang menjadi pengikut-Nya dan berharap bahwa Yesus akan melakukan konfrontasi terbuka dengan pemerintahan Romawi.  Namun yang terjadi adalah sebaliknya, Yesus malah menarik diri dari sebuah kesempatan emas menjadi penguasa politik bangsa itu.  Jika masyarakat menginginkan konfrontasi, Yesus malah menginginkan adanya sebuah kehidupan perdamaian yang dikuasai oleh kasih.  Wacana “kasihilah musuhmu” menjadi sebuah wacana yang sulit untuk dipahami oleh sebagian besar orang pada saat itu, dan mungkin masih sulit dipahami oleh sebagian umat Kristen pada saat ini.

Sementara itu Muhammad SAW sendiri dikenal sebagai pendiri agama Islam yang menekankan perdamaian, manusia yang  kembali kepada fitrahnya.  Islam dikenal dalam sejarah pada awalnya tumbuh sebagai sebuah agama minoritas dan cinta damai di tengah kedua agama mayoritas saat itu; Yahudi dan Kristen.  Pada masa-masa awal Muhammad menyebarkan Islam di Madina, Ia mengakui eksistensi kaum Yahudi dan Kristen serta berusaha untuk membina kerukunan dengan mereka meskipun dalam perkembangannya terjadi konfrontasi-konfrontasi yang tidak dapat dihindari.  Perihal ini, saya pikir bahwa ini adalah hal yang tidak dapat dihindarkan karena wajar terjadi pergesekan-gesekan kecil antara agama yang baru muncul dengan agama-agama yang telah ada sebelumnya karena perbedaan ideologi agama dan sebenarnya karena adanya faktor keegoisan manusia yang tidak ingin kehilangan dominasinya melalui topeng agama tertentu.

Sejarah bergulir, dan sejarah juga membuktikan bahwa pertumbuhan agama-agama ini akhirnya mengalami pergesekan di antara para pengikutnya.  Kisah Perang Salib antara umat Kristen dan umat Islam sesungguhnya membawa sebuah pelajaran yang berharga bagi setiap kita.  Perang yang berlarut-larut serta memakan korban jiwa yang sangat besar tersebut sebenarnya didasarkan atas motif sebagian penguasa Eropa yang notabene beragama Kristen, tidak ingin kehilangan dominasinya di daerah Timur Tengah atas pengaruh Islam saat itu.  Yang menyedihkan adalah perang ini akhirnya dicetuskan dengan kedok “kehendak Tuhan” dan disahkan oleh gereja pada saat itu.  Kekristenan akhirnya menyadari kesalahannya tersebut serta perlu berulang kali merefleksikan dirinya atas peristiwa kelam tersebut.  Apakah umat Kristen selama ini benar-benar menyadari tindakannya yang didasari atas imannya, ataukah iman tersebut hanyalah sebagai sebuah kedok yang mensahkan sebuah imperialisme?

Sejarah terus bergulir dan menciptakan gesekan-gesekan baru di antara keduanya.  Yang terbaru saat ini adalah wacana jihad yang dikumandangkan oleh golongan ekstrimis Islam dengan klaim bahwa hal ini adalah kehendak Allah SWT.  Bom Bali dan Bom Marriot adalah sebagian dari kisah kelam wacana jihad ekstrim yang absurd. Saya merasa semangat untuk menegakkan hukum agama sebagai sesuatu yang baik, namun menegakkan dengan cara kekerasan adalah tidak tepat.  Saya bertanya-tanya, bagaimana jika seandainya Muhammad SAW hidup kembali pada zaman ini, kemudian menyaksikan sendiri praktik ekstrim melalui serangkaian kekerasan maupun terorisme pada zaman ini, apakah yang menjadi responnya?  Saya merasa bahwa mungkin para pelaku serta penganut ideologi ekstrim akan tertunduk malu mendengar komentar sang nabi.

Kristen bukanlah agama Eropa yang harus diidentikkan dengan penjajah, melainkan sebuah agama yang menekankan kehidupan perdamaian yang dipenuhi dengan kasih.  Islam bukanlah sebuah agama yang agresif melainkan sebuah agama yang menekankan perdamaian dan kerukunan.  Jika kita merunut sejarah bangsa kita sejak pergerakan kemerdekaan, sebenarnya terbina sebuah kerjasama yang harmonis antara penganut-penganut agama, baik itu Kristen maupun Islam, dalam melawan penjajah serta dalam mewujudkan kehidupan identitas bangsa Indonesia yang merdeka.  Bukankah hal inilah yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini di tengah berbagai ancaman krisis terutama perpecahan dan pertikaian bangsa ini?  Sesungguhnya perdamaian antara umat beragama bukanlah sesuatu yang mustahil jika kita menyadari dengan benar apa yang kita imani, dan di atasnya kita bangun sebuah tatanan kehidupan yang harmonis.

Saya bukanlah seorang pluralis, namun saya menyadari bahwa memang agama-agama pada dasarnya mengajarkan sebuah kebaikan, kebajikan, dan perdamaian.  Tidak hanya Kristen maupun Islam yag mewakili agama mayoritas bangsa ini, baik Gandhi maupun Buddha Gautama juga menyuarakan sebuah kehidupan bersama yang penuh kedamaian.  Oleh Karena itu sesungguhnya kita perlu membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasari atas dasar kerukunan beragama demi mewujudkan perdamaian tersebut.  Saya kira baik Yesus maupun Muhammad jika mereka berkomentar tentang perdamaian, maka mereka akan sama-sama sepakat untuk mendukungnya.  Yesus, Muhammad, dan perdamaian, sesungguhnya bukanlah suatu hal yang mustahil.

_______________________________________________________________________________
Penulis (Andrey Thunggal, SAAT Malang) adalah pemenang Kompetisi Menulis 2009 yang diadakan oleh Waraskita dengan tema Hari Perdamaian 1 Januari 2010.

Ikuti Warung Aspirasi Kita (Waraskita) di Facebook dan Twitter.